Posted by: mudakir fauzi | April 14, 2009

Pendidikan islam sebelum periode madrasah

Pendidikan islam sebelum periode madrasah
Pendahuluan
Dalam sejarah awal perkembangan islam pendidikan islam sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah merupakan upaya pembebasan manusia dari belenggu akidah ayang sesat yang dianut oleh kelompok Quraisy dan upaya pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan suatu kelompok terhadap kelompom lain yang dipandang rendah status sosialnya. Tauhid merupakan salah satu nilai pokok dalam pendidikan masa itu, karena dengan menginternalisasikan nilai keimanan berdasarkan tauhid segala kepercayaan yang sesat itu dapat dibersihkan dari jiwa manusia.
Seiring berjalannya waktu, sebelum pendidikan islam menuju pada masa madrasah. Sejarah pendidikan islam mengalami masa pada periode sebelum adanya madrasah. Di mana pada waktu itu banyak berdiri kuttab, rumah, masjid, halaqah, perpustakaan, salon kesustraan dan sebagainya.
Munculnya lembaga-lembaga pendidikan non-formal sebelum periode madrasah tersebut diatas memperlihatkan adanya kepedulian terhadap pentingnya pendidikan bagi warga masyarakat juga menunjukkan adanya dinamika pendidikan islam yang amat dinamis, serta menunjukkan sebuah model pendidikan ayang demokratis, bebas terkendali, bahkan juga toleransi.a hal ini misalnya terlihat pada tata krama dan tradisi, intelektual yang terjadi di halaqah. Dari sudut tata krama yang mengajarkan bahwa seseorang yang memandang tamu ke rumahnya harus menyediakan makanan dan minuman, maka ini dapat berarti bahwa aahalaqoh-halaqoh berlangsung di rumah-rumah itu tertentu berukuran kecil. Mengenai waktu dan gambaran penyelenggaraan halaqoh ditemukan contoh praktis. Ibnu Sina misalnya menyelenggarakan halaqoh mulai dari waktu fajar hingga pertengahan waktu pagi. Demikian pula al-Ghazali setelah uzlah, ia mendirikan sebuah halaqoh para ilmuan dirumahnya yagn memperoleh perhatian secara pribadi.
Pada makalah ini akan menjelaskan tentang lembaga pendidikan islam sebelum masa periode madrasah hingga menuju pada seluk beluknya. Sehingga diharapkan akan mengantarkan pengetahuan tentang pendidikan islam pada masa tersebut.
Pembahasan
Lembaga pendidikan islam sebelum masa periode madrasah
Pada umumnya lembaga pendidikan islam sebelum masa periode madrasah atau disebut juga masa klasik, diklasifikasikan atas dasar muatan kurikulum yang diajarkan. Dalam hal ini kurikulumnya meliputi pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Atas dasar ini, lembaga pendidikan islam di masa klasik menurut Charles Michael Stanton digolongkan ke dalam dua bentuk yaitu lembaga pendidikan formal dan non formal, dimana yang pertama mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan yang kedua mengajarkan pengetahuan umum, termasuk filsafat. Sementara George Maksidi dalam hal yang sama menyebutkan sebagai lembaga pendidikan eksklusif (tertutup) dan lembaga pendidikan inklusif (terbuka). Tertutup artinya hanya mengajarkan pengetahuan agama dan yang terbuka artinya menawarkan pengeatahuan umum.
Lembaga-lembaga pendidikan islam sebelum masa periode madrasah adalah sebagai berikut:
1.    Kuttab Atau Maktab
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar yang sama yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan Kuttab atau maktab berarti tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan kegiatan tulis menulis. Kebanyakan para ahli sejarah pendidikan islam sepakat bahwa keduanya merupakan istilah yang sama dalam arti lembaga pendidikan islam tingkat dasar yang mengajarkan membaca dan menulis, kemudian meningkat kepada pengajaran al-Qur’an dan pengetahuan agama tingkat dasar. Namun Abdullah Fajar membedakannya, ia mengatakan bahwa maktab adalah istilah untuk zaman klasik, sedangkan kuttab adalah istilah untuk zaman modern.
Philips K Hitti mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di kuttab berorientasi kepada al-Quraa’an sebagai suatu texbook. Hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa arab, sejarah nabi, khususnya yang berkaitan dengan nabi Muhammad SAW, mengenai kurikulum ini Ahmad Amin pun menyepakatinya.
Berkembangnya pengajaran di kuttab yang mulai mengajarkan pengetahuan umum disamping ilmu agama. Hala ini merupakan akibat dari adanya persentuhan antara islam dengan warisan budaya Helenisme, sehingga banyak membawa perubahan dalam bidang kurikulum pendidikan islam. Bahkan dalam perkembnangan berikutnya kuttab dibedakan menjadi dua yaitu akuttab yang mengajarkan pengetahauan non agama (seculer learning) dan kuttab yang mengajarkan ilmu agama (religius learning)
Dengan adanya kurikulum tersebut dapat dikatakan bahwa kuttab pada awal perkembangan merupakan lembaga pendidikan yang tertutup dan setelah adanya persentuhan dengan peradaban Helenisme menjadi lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan umum termasuk filsafat.
2.    Rumah
Rumah disini yang dimaksud adalah rumah-rumah ulama. Rumah ulama memberikan peranan penting dalam mentransmisikan ilmu agama dan pengetahuan umum. Sebagai transmisi keilmuan, rumah muncul lebih awal daripada masjid. Sebelum masjid dibangun, ketika Rosul di Mekkah beliau menggunakan rumah al-Arqam sebagai tempat memberi pealajaran bagi kaum muslimin. Selain itu juga menggunakan rumah beliau sebagai temapta berkumpul untuk belajar islam. Walaupun rumah bukanlah tempat yang ideal memberikan pelajaran namun banyak rumah ulama yang dipakai sebagai tempat belajar.
Belajar di rumah-rumah ulama merupakan fenomena umum di masyarakat islam. Hal ini menunjukkan tidak ada rasa terganggu atau berat hati bila rumah mereka dipakai untuk tempat belajar. Mereka justru bangga karena pelajar-pelajar datang kerumah mereka untuk bertanya dan belajar. Diadakannya pengajaran dan perdebatan ilmiah dirumah-rumah tidak lain adalah karena terpaksa atau darurat. Ulama-ulama yang tidak diberi kesempatan mengajar dilembaga formal akan mengajar dirumah mereka.
3.    Masjid
Sejak masa nabi, masjid mempunyai peran penting masyarakat islam yang berfungsi sebagai tempat bersosialisasia, tempat ibadah, dan tempat pendidikan. Oleh karena itu ketika nabi hijrah ke Madinah maka sarana yang pertama kali beliau bangun adalah masjid. Pembangunan masjid selalu mendapat perhatian ulama sehingga umat islam berhasil menguasai wilayah.
Lembaga pendidikan amasjid tersebar ke plosok wilayah islam, dari India disebelah timur sampai Spanyol di belahan barat. Dengan demikian begitu maraknya pendidikan islam pada masa klasik, khususnya masa keemasan pendidikan islam. Adapun masjid-masjid yang menjadi pusat perhatian dan kebanggan adalah masjid jami’ yang ada dikota-kota besar seperti Bagdad, Damaskus, Kairo.
4.    Majlis
Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama islam. Misalnya, ia merujuk pada arti tempat-tempat pelaksanaan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya di saat dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi di masa aktifitas pengajaran atau diskusi berlangsung dan belakangan majlis diartikan sebagai sejumlah aktifitas pengajaran, sebagai contoh, majlis al-Nabawi, artinya majlis yang dilaksanakan oleh nabi,a atau majlisal-Syafi’i artinya majlis yang mengajarkan fiqih Imam Syafi’i.
Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan sehingga majlis banyak ragamnya. Menurut Muniruddin Ahmed ada tujuh macam majlis, sebagai berikut
a)    Majlis al-Hadis
Majlis ini diselenggarakan oleh ulama atau guru yang ahli dalam bidang hadis. Ulama tersebut membentuk majlis untuk mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya. Majlis ini bisa berlangsung antara 20-30 tahun dan jumlahnya peserta yang mengikuti majlis ini dapat mencapai ratusan ribu orang, seperti majlis yabng disampaikan oleh Ashim ibn Ali di masjid al-Rusafa diikuti oleh 100.000 sampai 120.000 orang.
b)    Majlis al-Tadris
Majlis ini merujuk kepada majlis selain daripada hadis seperti majlis fiqih, majlis nahwu atau majlis kalam. Dalam artian majlis ini tidak hanya mengkaji pada displin ilmu tentang hadits akan tetapi mencakup hingga pada kajian tentang fiqih, nahwu, ilmu kalam dan sebagainya.
c)    Majlis al-Munazharab
Majlis ini dipergunakan sebagai sarana untuk perdebatan mengenai suatu masalah oelh para ulama. Menurut Syalabi, khalifah Muawiyyah sering mengundang para ulama untuk berdiskusi diistananya, demikian jauga khalifah al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyyah. Diluar istana majlis ini ada yang dilaksanakan secara continue dan spontanitas, bahkan ada yang berupa kontes terbuka dikalangan ulama. Untuk model ini biasanya hanya dipakai untuk mencari popularitas ulama saja.
Ada beberapa macam majlis al-Munazharah yaitu:
1.    Majlis al-Munazharah yang diselenggarakan atas perintah khalifah.
2.    Majlis al-Munazharah yang lebih bersifat edukatif dan dilaksanakan secara kontinue
3.    Majlis al-Munazharah yang diselenggarakan secara spontan. Pertemuan ini terjadi secara tidak sengaja.
4.    Majlis al-Munazharah yang bersifat seperti kontex terbuka antara beberapa ulama yang diselenggarakan dengan mengumpulkan beberapa ulama.
d)    Majlis al-Muzakarah
Majlis ini merupakan inovasi murid-murid yang belajar hadis. Majlis ini diselenggarakan sebagai sarana untuk berkumpul dan saling mengingat dan mengulang pelajaran yang sudah diberikan sambil menunggu kehadiran guru. Pada perkembangan berikutnya majlis al-Muzakarah ini dibedakan berdasarkan materi yang didiskusikan yaitu meliputi sanad hadis, materi hadis, perawi hadis, hadis-hadis dho’if, korelasi hadis dengan bidang ilmu tertentu, serta tentang kitab-kitab musnad.

e)    Majlis al-Syu’ara
Majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair dan juga sering di pakai untuk kontes para ahli syair.
f)    Majlis Adab
Majlis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah dan laporan bersejarah bagi orang-orang yang terkenal.
g)    Majlis al-Fatwa dan Nazar
Majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu masalah di bidang hukum kemudian difatwakan. Disebut juga majlis ini adalah perdebatan antara ulama fiqih atau hukum islam.
5.    Halaqoh
Halaqoh artinya adalah lingkaran. Artinya proses belajar mengajar disini dilaksanakan dimana murid-murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membaca karangannya atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini bisa terjadi di masjid atau dirumah-rumah.
Sistem halaqoh tidak mengenal sistem klasik, semua umur dan jenjang berkumpul bersama untuk mendengarkan penjelasan guru. Jadi tidak dibedakan antara usia dan jenjang pendidikannya.
6.    Perpustakaan
Perpustakaan merupakan tempat dimana terdapat kumpulan-kumpulan atau koleksi buku yang dapat dibaca-baca bahkan dipinjam. Perpustakaan berkembang luas pada masa Abbasiyyah, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan pribadi. Faktor-faktor ayangb menyebabkan perkembangan itu antara lain ialah meluasnya penggunaan kertas untuk menyalin kitab-kitab, bermunculnya para penyalin kitab, dan berkembangnya halaqoh para sastarawan dan ulama. Disamping itu, penghargaan terhadap ilmu mendorong kaum muslimin untuk membeli kitab-kitab dari berbagai negeri. Dengan demikian perpustakaan menjadi pusat pendidikan dan kebuadayaan islam yang sangat penting.
Beberapa perpustakaan umum yang terkenal ialah perpustakaan Bayt al-Hikmah di Bagdad yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan berkembang pesat pada masa Khalifah al-Makmun, perpustakaan Bayt al-Hikmah di Ruqadah, Afrika Utara yang didirikan oleh Ibrahim II dari Dinasti Aghlabi, seorang amir yang sangat cinta kepada ilmu dan pendiri kota raqadah pada tahun 264H/878H. Perpustakaan Dar al-Hikmah Cairo yang didirikan oleh al-Hikmah bin Amrillah pada tahun 395H.
Disamping perpustakaan umum terdapat pula perpustakaan khusus yang didirikan oleh para Amir di istana dan ulama dirumah mereka. Jumlah perpustakaan pribadi ini tidak terhitung. Semua ini menunjukkan bahwa kaum muslimin menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu.
7.    Salon kesusasteraan
Salon kesusasteraan adalah suatu majlis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai mecem ilmu pengatahuan. Majlis ini bermula sejak zaman Khulafaurrasyidin yang biasanya memberikan fatwa dan musywarah serta diskusi dengan para sahabat untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi pada masa itu. Dalam majlis sastra tersebut bukan hanya dibahas dan didiskusikan masalah-masalah kesusasteraan saja melainkan berbagai macam ilmu pengatahuan dan berbagai kesenian.
8.    Khan
Khan berfungsi sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki banyak toko. Seperti Khan al-Narsi yang berlokasi di Alun-alun Karkh di Bagdad, selain itu khan juga berfungsi sebagai sarana untuk murid-murid dari luar kota yang hendak belajar hukum islam disuatu majlis seprti khan yang dibangun oleh Di’lij ibn Ahmad Ibn Di’jil pada akhir abad ke 10M di Suwaiqat Ghalib dekat makam Suraij. Diamping fungsi diatas khan juga digunakan sebagai sarana untuk belajar privat.
9.    Ribath
Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengkonsentrasikan diri untuk ibadah semata-mata. Ribath biasanya dihuni oleh sejumlah orang-orang miskin. Mereka bersama-sama melakukan praktik-praktik sufistik. Disamping melakukan praktek sufistik, mereka juga memberi perhatian kepada kegiatan keilmuwan. Pada umunya ribath dibangun untuk sufi laki-laki, tetapi ada juga ribath yang dibangun untuk sufi wanita dimana mereka bertempat tinggal, beribadah dan mengajarkan pelajaran agama didalamnya.
Faktor munculnya lembaga pendidikan non formal sebelum periode madrasah
Pendidikan islam dalam sejarah tercatat terbagi menjadi beberapa periode: yaitu salah satunya adalah pada periode sebelum madrasah. Tercatat banyak sekali berdiri berbagai macam lembaga-lembaga pendidikan pada saat itu. Beberapa faktor yang mendorong munculnya lembaga-lembaga tersebut adalah antara lain:
Pertama, terdorong oleh motivasi-motivasi untuk mengembangkan keilmuan. Kaum muslimin pada masa awal membutuhkan pemahaman al-Qur’an sebagai apa adanya, begitu juga butuh keterampilan membaca dan menulis, Ibnu Khaldun mencatat bahwa pada awal kedatangan islam orang-orang Quraisy yang pandai membaca dan menulis hanya berjumlah 17 orang. Semuanya laki-laki.
Kedua, terdorong berkembangnya kebutuhan pada masa awal islam untuk mendakwahkan islam, karena itu sasaran pun pada mulanya ditujukan untuk orang-orang dewasa. Menjadi semakin meluas tingkatan usianya, sehingga sampai pada usia anak-anak.
Kesimpulan
Pada sejarah perkembangan islam sbelum pendidikan islam menuju pada periode pendidikan islam di madrasah. Pendidikan islam melalui masa periode pra madrasah yang mana pada masa ini banyak berdiri lembaga-lembaga pendidikan islam, yaitu Kuttab atau Maktab, Rumah, Masjid, Majlis, Halaqoh, Perpustakaan, salon kesusasteraan, ribath dan khan.
Faktor yang mendorong munculnya lembaga-lembaga tersebut yaitu dikarenakan oleh fakator motifasi demi berkembangnya keilmuan dan terdorong oleh berkembangnya kebutuhan pada masa awal islam untuk mendakwahkan islam

About these ads

Responses

  1. Thankz bangetz zaw…..
    ini sngat membantu mengerjakan jawaban UTS aku….
    makasih sekali lg!

  2. Thanks zaw…..
    ini sangat membantu Q dalam menjawab UTS q… semoga lancar semuanya zaw….
    makasih sekali lagi….! :)

  3. ingin sekali rasanya mendapatkan info tentang buku2 rujukan materi Praktik pensdidikan nabi muhammad saw


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: