Posted by: mudakir fauzi | July 22, 2009

Pendidikan Di Anak Benua India Deoband Dan Aligarh

PENDAHULUAN

Nama Deobandi berasal dari kata “Deva” dan “Ban”, sebuah hutan belantara di bagian provinsi utara India, (Uttar Pradesh) India, di mana sekolah Darul Uloom “Darul ‘Ulum” Deoband yang didirikan oleh Maulana Qasim Nanautavi, Maulana Kifayatullah berada. Deobandi mengikuti fiqhAbu Hanifa dan Aqidah dari Abu Mansur Maturidi, secara historis Deobandi mengadopsi pemikiran Shah Wali-Allah, pembaharu Islam di anak benua India pada abad ke delapanbelas yang menggabungkan semua disiplin ilmu agama seperti: Teologi, ilmu Logika (Mantiq), Fiqh, Tasawwuf, Tafsir, Hadith dan Filsafat. Dalam tempo kurang lebih seratus tahun Madrasah Deobandi telah berhasil mencetak ratusan siswa yang ikut mengembangkan ilmu keislaman di Asia Selatan. dari

Sayyid Ahmad Khan dilahirkan di Delhi tanggal 17 oktober 1817 dan menurut keterangan ia berasal dari keturunan Husain, cucu Nabi Muhammad melalui Fatimah bin Ali. Neneknya Sayyid Hadi, adalah pembesar istana dizaman Alamghir II (1754-1759). Ia mendapat pendidikan tradisional dalam pengetahuan agama. Selain bahasa arab, ia juga belajar bahasa Persia dan sejarah. Ia orang yang rajin membaca dan selalu memperluas pengetahuan dengan menelaah berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sewaktu berusia 18 th, ia memasuki lapangan pekerjaan pada serikat India Timur. Kemudian bekerja sebagai hakim. Di tahun 1846, ia pulang kembali ke Delhi. Ia pulang kembali untuk meneruskan studi. Selain pekerjaan itu, ia juga amat cakap dalam menulis dan mengarang. Salah satu karyanya yang mengantarkan namanya menjadi terkenal adalah Ahtar Al-Sanadid.

Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat Islam India, dapat diwujudkan hanya dengan bekerja sama dengan Inggris. Inggris telah merupakan penguasa yang teruat di India dan menentang kekuasaan itu tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India. Hal ini akan membuat mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindhu India.

Pembahasan

Pendidikan Di Anak Benua India Deoband Dan Aligarh

  1. Deoband

Deobandi (Urdu: devbandī) adalah Islam Sunni Paham gerakan politik yang timbul dan memulai dari India dan Pakistan dan kemudian menyebar ke negara-negara lain, seperti Afganistan, Afrika Selatan, dan Inggris dengan kedatangan imigran dari Asia Selatan.

Nama Deobandi berasal dari kata “Deva” dan “Ban”, sebuah hutan belantara di bagian provinsi utara India, (Uttar Pradesh) India, di mana sekolah Darul Uloom “Darul ‘Ulum” Deoband yang didirikan oleh Maulana Qasim Nanautavi, Maulana Kifayatullah berada. Deobandi mengikuti fiqhAbu Hanifa dan Aqidah dari Abu Mansur Maturidi, secara historis Deobandi mengadopsi pemikiran Shah Wali-Allah, pembaharu Islam di anak benua India pada abad ke delapanbelas yang menggabungkan semua disiplin ilmu agama seperti: Teologi, ilmu Logika (Mantiq), Fiqh, Tasawwuf, Tafsir, Hadith dan Filsafat. Dalam tempo kurang lebih seratus tahun Madrasah Deobandi telah berhasil mencetak ratusan siswa yang ikut mengembangkan ilmu keislaman di Asia Selatan. dari

Darul Ulum, sebuah lembaga pendidikan di kawasan Saharanpur, India bagian utara. Lembaga ini didirikan pada tahun 1867 sebagai maktab biasa, kemudian menjadi terkenal karna peranan tokoh-tokohnya seperti M.Q Nanotawi, R.A gangohi, Mahmud Al-Hasan dan A.H Madani dalam memperjuangkan kepentingan kaum muslimin di Anak Benua India, dengan cara mereka yang khas. Karena peranannya yang demikian lembaga ini sering disebut sebagai “Gerakan Deoband”. Memang , berakhirnya kekuasaan Mughal dan semakin kokohnya posisi Inggris di anak Benua, telah membuka kesempatan bagi para pemuka muslim seperti ulama Deoband guna memperluas pengaruh di masyarakat.[1]

Deoband didirikan sebagai kontinuitas tradisi keilmuan dalam Islam serta respon terhadap kondisi lokal. Maktab yang mula-mula didirikan oleh Abu Husain di Deoband tak berbeda dengan lembaga pendidikan sejenis yang tersebar dikalangan muslim India kala itu. Karena diorganisir dimasjid setempat, kelihatannya maktab tersebut lebih ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat sekelilinganya. Hanya setelah tahun 1874, para pengasuh maktab Deoband mendapatkan bantuan termasuk tanah guna mendirikan bangunan khusus untuk pendidikan. Mulai saat itulah Nanotawi dan Gongohi yang lulusan madrasah Delhi dan pendatang ke Doeband memperkenalkan sebuah kurikulum setandar Dars Nizamiyah. Dengan pengetahuan dan reputasi para pengasuh Deoband serta sistem pendidikan yang diterapkannya, Deoband menarik minat para pencari ilmu dari luar daerah.[2]

Beberapa orang yang terlibat dalam pendirian sekolah tersebuut dididik di Delhi pada tahun 1840-an dan terligat dalam dua lembaga penting: lingkungan ulama refomis yang terkait dengan keluarga Syah Wali Allah dan Sayyid Ahmad Barelwi dan Kolese Delhi,  yang didirikan oleh Inggris untuk mengajarkan mata vpelajaran Eropa dan “Ketimuran” dengan bahasa pengantar Urdu dan bukian dengan bekas bahasa Istana (bahasa Peresia) atau bahasa-bahasa keagamaan (Sanssekerta dan Arab). Di antara mereka yang kemudian aktif di Deoband adalah anak dan ponakan seorang pengajar di kolese Delhi, Maulana Mamluk Ali: Muhammad Ya’kub Nanautawi -kepala sekolah atau shard mudarris pertama (1867-1888) dan seorang mursyid atau pembimbing spiritual yang sangat dihormati disekolah tersebut. Di Delhi ada juga Rasyid Ahmad Gangohi (1829-1905), kepala sekolah (muhtamim) awal yang juga seorang ahli hadits dan fiqih, dan haji imdadullah (1817-1899), yang pergi ke Makkah setelah pemberontakan 1857 dan menjadi pir kesayangan ulama Deobandi awal.

Dengan dimulai hanya dengan dua belas siswa, sekolah tersebut pada akhir abad kesembilan belas menerim,a ratusan siswa. Pada ulang tahunnya yang keseratus pada 1967, sekolah ini telah meluluskan 3.795 orang siswa yang dating dari seluruj pelosok India, 3.191 orang siswa dari Pakistan Timur dan Barat, dan 431 dari luar India-pakistan. Meskipun beragam asal usulnya, para siswa tersebut dipersatukan oleh pemakaian bersama bahasa Urdu dan Asrama. Para siswa ini segera menjadi sebuah pusat metropolitan. Pada tahun-tahun pertama, para siswanya datang dari Asia Tengah, Afganistan dan seluruh penjuru India; pada akhir abad kedua pulu, terdapat siswa dari Afrika Timur dan Selatn, dan juga dari Eropa dan Amerika.[3]

Deobandi pada dasarnya sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan diri dalam dunia pendidikan. Biasanya para alumni dari Sekolah ini sangat sulit memisahkan diri dari nama Deobandi seusai tamat pendidikannya, sebagai contoh banyak mereka yang menggunakan nama tambahan di belakang namanya semisal Maulana Shafi’ Usmani Deobandi, Maulana Kifayatullah Deobandi dsb. Kerekatan nama pendidikan ini dengan para alumninya merupakan tolok-ukur dalam berbagai gerakan yang dibentuk oleh para alumni.

Adapun Gerakan Da’wah yang berkiblat kepada Deobandi adalah gerakan Isya’at Tauhid Wassunnah, sebagai lembaga Da’wah yang didirikan oleh Maulana Hussain Ali pada tahun 1957 di Provinsi Punjab. Hingga saat ini jama’ah ini bekerja dalam penegakkan Tauhid dan penerapan Sunnah, serta menentang hal-hal yang dianggap bid’ah dan khurafat. Pada dasarnya gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap faham Brelvi yang berkembang pesat diseluruh provinsi Pakistan dan khususnya di provinsi Sind.

a. Gerakan Mujahiddin

Islam di India pernah mengalami kemajuan dengan berdirinya kerajaan Mughal sebagai mana yang telah dialami oleh kerajaan Turki Usmani. Kedua kerajaan tersebut mengalami kejayaan antara tahun 1500-1700 M.

Kerajaan Mughal di India sebagai symbol kejayaan Islam di India mengalami kemunduran sejak tahun 1700 M karna daerah kekuasaannya diperkecil oleh kerajaan-kerajaan Hindu yang ingin melepaskan diri. Selain itu, dari dalam kerajaan sering terjadi perang saudara yang memperebutkan kekuasaan di Delhi.

Suasana tersebut menyadarkan pemimpin-pemimpin Islam di India akan kelemahan umat Islam. Salah satu dari pemuka itu ialah Syekh Waliyullah (1703-1762). Ia lahir di Delhi dan mendapat pendidikan dari orang tuanya Syekh Abdurrahim seorang sufi dan ulama yang meiliki madrasah. Setelah dewasa, ia mengajar dimadrasah itu. Selanjutnya, ia pergi haji dan selama setahun di Hijaz ia sempat belajar pada ulama-ulama yang ada di Makkah dan Madinah. Ia kembali ke Delhi pada tahun 1732 dan meneruskan pekerjaannya yang lama sebagai guru. Disamping itu ia gemar mengarang dan banyak menghasilkan karangan-karangan, diantaranya buku Hujjatullah Al-Balighah.

Dalam karangan-karangan tersebut dituangkan pemikiran-pemikirannya tentang ide-ide pembaharuannya. Ide-ied yang dicetuskan oleh syekh Waliyullah pada abad 18 tentang pembaharuan diteruskan oleh anaknya syekh Abdul Aziz dan beberapa tokoh lainnya yang terpengaruh oleh ide-ide yang dicetuskan oleh syekh Waliyullah melalui karya-karyanya.

Salah seorang dari murid syekh Abdul Aziz yang berpengaruh dalam gerakan melaksankan ide-ide syekh Waliyullah adalah Sayyid Ahmad Syahid. Ia lahir di Rae  Boneli pada tahun 1786. Sayyid Ahmad Syahid dimasa mudanya pernah menjadi pasukan berkuda Nawab Amir Khan. Dari situ ia banyak memperoleh pengalaman dan pengetahuan militer yang berharga baginya dalam memipmpin geraklan Mujahiddin.

Menurut pemikiran sayyid Ahmad, Umat islam mundur karna agama yang mereka anut tidak lagi Islam yang murni tetapi Islam yang telah bercampur baur dengan faham dan peraktek yang berasal dari Persia dan India. Umat Islam India harus di bawah kembali pada ajaran Islam yang murni. Untuk mengetahui ajaran yang murni itu orang harus kembali pada Al-quran dan Hadits. Dengan kembali kepada kedua sumber asli ini, bidah yang melekat dalam tubuh Islam dapat dihilangkan.

Yang pertama kali harus dibersihkan ialah tauhid yang dianut umat Islam India. Keyakinan mereka harus dibersihkan dari paham dan peraktek kaum tarekat sufi, seperti kepatuhan tidak terbatas kepada guru dan Ziarah kekuburan wali untuk meminta syafaat. Selain itu, faham animisme dan adat istiadat Hindu yang masih terdapat dalam kalangan umat Islam India.

Lebih terperinci ajarannya mengnai tahuid mengandung hal-hal berikut:

  1. yang boleh disembah hanyalah tuhan, secara langsung tanpa perantara dan tanpa upacra yang berlebih-lebihan.
  2. Makhluk tidak boleh diberikan sifat-sifat tuhan, malaikat, roh, wali dan lain-lain, serta tidak mempunyai kekuasaan apa-apa untuk menolong manusia dalam mengatasi kesulitan-kesulitan. Mereka sama lemahnya dengan manusia dan sama terbatas pengetahuannya mengenai tuhan.
  3. Sunnah (tradisi) yang diterima hanyalah sunnah nabi dan sunnah yang timbul pada zaman khalifah yang empat. Kebiasaan membaca tahlil dan menghiasi kuburan adalah bidah yang menyesatkan dan harus dijauhi.

Selain itu, sayyid Ahmad juga menentang adanya taqlid terhadap pendapat ulama termasuk pendapat empat imam besar. Berpegang pada salah satu mazhab bukanlah hal yang penting sungguhpun ia sendiri menganut mazhab Hanafi. Ijtihad sangat diperlukan untuk memperoleh interprestasi baru terhadap ayat-ayat al-quran dan hadits.

2. Aligarh

Nama sebuah kota besar di Distrik Aligarh, Uttar Parades Barat, India ini telah diasosiasikan dengan pusat kegiatan pendidikan, politik, dan ideologis muslim utama sejak akhir abad kesembilan belas. Berjarak 126 kilometer kearah selatan Delhi, kota ini -juga dikenal sebagai Koil- pada 1865 menjadi markas besar Aligarh Scientific Society (Masyarakat ilmiah Aligarh), dan sepuluh tahun kemudian menjadi Mahomedan Anglo Oriental College (MAOC). Kedua kolese itu, dipimp[in oleh sayid Ahmad Khan (1817-1898), didirikan dengan tujuan agar Ilmu-ilmu Eropa konteporer dapat diakses oleh public yang memiliki hak istimewa khususnya kaum muslim. Pada tahun 1920, kolese tersebut dikembangkan menjadi Universitas Muslim Aligarh (UMA) yang otonom dan berhak menganugrahkan gelar kesarjanaan. Setelahj pemisahan India, dan terbentuknya Pakistan sebagai Negara-negara tersendiri bagi Muslim Asia selata, UMA masih tetap di India sebagai salah satu di antara kelompok kecil universitas nasional.

a. Sayyid Ahmad Khan dan Gerakan Aligarh

Sayyid Ahmad Khan lahir pada tahun 1817 di Delhi. Menurut salah satu riwayat, Ia berasal dari keturunan Husain, cucu nabi Muhamad SAW, lewat Fatimah dan ali. Sayyid adalah cucu sayyid Hadi salah seorang pembesar Istana pada zaman Alamghir II (1754-1759).[4]

Sir Sayyid Ahmad khan merupakan figure utama dalam gerakan Aligarh, mendirikan masyarakat Ilmiah di ghazipur pada 1863. masyarakat ini pindaj ke Aligarh ketika sayyid Ahmad sendiri dipindahkan kekota itu sebagai hakim rendah. Meskipun masyarakat ilmiah itu mengikutsertakan pula orang hindu dan muslim, perjalanan ke Inggris yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad khan, pada 1869, mendorongnya mencurahkan sisa hidupnya untuk mendirikan lembaga pendidkan yang khusus bagi kaum Muslim India. Gagasan religiusnya yang ortodoks mengundang oposisi sejak semula. Namun sayyid ahmad berhasil meraih dukungan dari berbagi kalangan kaum muslimin- memadukan para pemimpin sunni dan syiah terkemuka- dalam upaya menciptakan generasi baru muslim yang terdidik dengan baik dalam ilmu Eropa, tetapi mempunyai komitmen pada Islam. Dengan bantuan dari pemerintah Inggris, yang diperkuat oleh oposisi sayyid Ahmad pada 1887 terdapat kongres Nasional India yang baru didirikan, kolese Aligarh berhasil dalam tujuannya menciptakan generasi baru pemimpin yang diyakini oleh sayyid Ahmad sebagai jamaah qaum  atau dalam bahasa Inggris India, Community (komunitas) Muslim. Para lulusan Aligarh menjadi figure-figur menonjol dalam kehidupan public India awal abad kedua puluh, seperti pejabat pemerintah, pengacara dan jurnalis.

b. Munculnya Gerakan Aligarh.

Ide-ide pembaharuan yang dicetuskan Sir Sayyid Ahmad Khan dianut dan disebarkan selanjutnya oleh murid serta pengikut dan timbullah apa yang dikenal dengan gerakan Aligarh. Pusatnya adalah sekolah MAOC yang didirikan pemimpin pembaharuan Islam India itu di Aligarh. Setelah ditingkatkan menjadi universitas, dengan nama Universitas Islam Aligarh ditahun 1920, perguruan tinggi ini meneruskan tradisi sebagai pusat gerakan pembaharuan Islam India. Gerakan Aligarh inilah yang menjadi penggerak utama bagi terwujudnya pembaharuan dikalangan ummat Islam India. Tanpa adanya gerakan ini, ide-ide pembaharuan selanjutnya seperti yang dicetuskan oleh Amir Ali, Muhammad Iqbal, Maulana Abdul Kalam Azad, dan sebagainya payah akan dapat timbul. Gerakan inilah pula yang meningkatkan ummat Islam India dari masyarakat yang bangkit menuju kemajuan. Pengaruhnya terasa benar digolongan intelegensia Islam India.
Diantara para pemuka yang besar pengaruhnya dalam menyebarluaskan ide-ide

Pembaharuan Sayyid Ahmad Khan adalah:

1.Altaf Husain Hali (1837-1914). Seorang pemuka lain yang besar pengaruhnya dalam menyebarluaskan ide-ide pembaharuan Sayyid Ahmad Khan adalah Altaf Husain Al Hilali. Atas permintaan Sayyid Ahmad Khan ia menulis syair tentang peradaban Islam di zaman klasik. Keluarlah di tahun 1879 apa yang terkenal dengan nama Musaddas. Syair itu antara lain juga mengandung ide-ide Aligarh. Terhadap pendidikan wanita ia lebih progressif dari Sayyid Ahmad Khan yang memandang bahwa kaum wanita belum perlu mendapat pendidikan sebagai kaum laki-laki. Dalam soal politik ia juga berpendapat bahwa ummat Islam India merupakan suatu kesatuan tersendiri disamping ummat Hindu. Tetapi ia tidak bersikap anti Hindu.

2. Chiragh Ali. Ia juga mengarang beberapa buku dalam bahasa Inggris, yang terpenting diantaranya ialah mengenai “pembaharuan yang diperlukan”. Didalamnya ia menjelaskan bahwa Islam, sebagai yang diajarkan Nabi Muhammad, bukanlah statis, tetapi dinamis, dan dapat sesuai dengan perubahan sosial dan politik yang terjadi sepanjang zaman.

3. Salah Al Din Khuda Bakhs. Ia adalah penulis dari gerakan Aligarh yang mempunyai pengaruh terhadap pembaharuan dikalangan ummat Islam India. Ia juga mengarang beberapa buku diantaranya Essays Indian and Islamic dan Politics in Islam. Al Qur’an, menurut pendapatnya, lebih banyak bersifat buku petunjuk spiritual dengan membawa norma-norma yang harus dipegang dari pada merupakan buku hukum yang mengikat untuk selama-lamanya. Islam tidak menentang kemajuan.

4. Maulvi Nazir Ahmad. Ia adalah seorang pengarang roman. Karangannya berkisar sekitar soal agama, budi pekerti, dan problema-problema sosial. Sebab kemunduran ummat Islam, dalam pendapatnya, terletak pada ummat Islam sendiri dan bukan datang dari luar. Ummat Islam tidak lagi hidup sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Untuk mencapai kemajuan ummat Islam harus hidup kembali sebagai ummat Islam di zaman klasik.

5. Muhammad Sibli Nu’mani (1857-1914). Ia sebagai guru bahasa Arab dan Persia di MAOC. Mempelajari filsafat bukanlah haram. Pemikiran modern dalam bentuk moderat dapat diterimanya. Setelah meninggalkan MAOC ia pergi ke Lucknow untuk memimpin perguruan tingi Nadwad Al Ulama’. Pemikiran modern moderat yang dianutnya membawa perobahan pada perguruan tinggi ini. Salah satu dari muridnya yang kemudian menjadi pemimpin pembaharuan diabad kedua puluh ialah Abdul Kalam Azad. Setelah Sayyid Ahmad Khan menghadapi masa tua, maka pimpinan MAOC digantikan oleh pengikutnya, diantaranya adalah:

1.Sayyid Mahdi Ali, yang dikenal dengan nama Nawab Muhsin Al Mulk (1837-1907).
Nawab Muhsin Al Mulk besar jasanya dalam menyebarkan ide-ide Sayyid Ahmad Khan dan ini dilakukannya melalui Muhammedan Educational Conference. Ialah pula yang dapat membuat golongan ulama’ India merubah sikap keras mereka terhadap Gerakan Aligarh. Dalam soal keagamaan Nawab Muhsin Al Mulk dengan idenya menentang taklid pada ulama’ klasik dan mengadakan ijtihad baru. Tetapi dalam menghadapi ulama’ klasik ia lebih lembut dari pada Sayyid Ahmad Khan. Berlainan dengan Sayyid Ahmad Khan, ia tidak segan-segan memasuki bidang politik, sampai terbentuknya Liga Muslim India di tahun itu juga.

2.Viqar Al Mulk (1841-1917). Ditahun 1907 ia menggantikan Nawab Muhsin Al Mulk dalam pimpinan MAOC. Sebagai ulama’ ia keras pendirian dan pegangannya terhadap agama. Dimasanyalah kekuasaan besar yang dipegang Inggris Direktur Inggris MAOC berkurang. Dalam pandangan politiknya, ia berpendapat lain yaitu Inggris bukan lagi tempat orang Islam menggantungkan nasib. Sehingga ketergantungan gerakan Aligarh kepada Inggris mulai berkurang.

Usaha-usaha yang dicapai oleh Sayyid Ahmad Khan.

Jalan bagi ummat Islam India untuk melepaskan diri dari kemunduran dan selanjutnya mencapai kemajuan, ialah memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern Barat. Dan agar yang tersebut akhir ini dapat dicapai sikap mental ummat yang kurang percaya kepada kekuatan akal, kurang percaya pada kebebasan manusia dan kurang percaya pada kebebasan manusia dan kurang percaya pada adanya hukum alam, harus dirubah terlebih dahulu. Perubahan sikap mental itu ia usahakan melalui tulisan-tulisan dalam bentuk buku dan artikel-artikel dalam bentuk majalah Tahzib Al Akhlaq. Usaha melalui pendidikan juga ia tidak lupakan, bahkan pada akhirnya kedalam lapangan inilah ia curahkan perhatian dan pusatkan usahanya. Di tahun 1876 ia dirikan sekolah Inggris di Muradabad. Di tahun 1879 ia mendirikan sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di Aligarh yang merupakan karyanya yang bersejarah dan berpengaruh dalam cita-citanya untuk memajukan ummat Islam India. Sekolah itu terbuka bukan hanya bagi orang Islam, tetapi juga bagi orang Hindu, Parisi dan Kristen.

c. Ide Pemikiran Sayyid Ahmad Khan

Sayyid ahmad berpendapat bahwa meningkatkan kedudukan umat Islam India, hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan Inggris. Sebab saat itu, Inggris merupakan penguasa yang menjajah India dan masih mempunyai kekuasaan yang kuat. Menentang kekuasaannya tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India, bahkan akan membuat mereka tetapmundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu India.

Selain dasar ketinggian dan kekuasaan Barat, termasuk yang dimiliki Inggris adalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) modern. Bagi umat Islam, untuk dapat maju, juga dapat menguasai IPTEK seperti mereka. Jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk memperoleh IPTEK yang diperlukan itu bukan bekerja sama dengan Hindu dalam menentang Inggris, tapi memperbaiki dan memperkuat hubungan baik dengan mereka.

Ia berusaha menyakinkan pihak Inggris bahwa dalam penberontakan 1857, umat Islam tidak memainkan peranan utama. Untuk itu, ia mengeluarkan pamflet yang mengandung penjelasan tentang hal-hal yang membawa pada pecahnya pemberontakan 1857. di antara sebab-sebab yang ia sebut adalah sebagai berikut:

a.Intervensi Inggris dalam soal keagamaan, seperti pendidikan kristen yang diberikan kepada yatim piatu di panti-panti yang diasuh oleh orang Inggris, pembentukan sekolah-sekolah missi Kristen, dan penghapusan pendidikan agama dari perguruan-perguruan tinggi.
b.Tidak turut sertanya orang-orang India, baik Islam maupun Hindu, dalam lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Hal ini akan membawa kepada rakyat India tidak mengetahui niat dan tujuan Inggris. Mereka menganggap Inggris datang untuk mengubah agama mereka menjadi kristen. Pemerintah Inggris tidak mengetahui keluhan-keluhan rakyat India.

c.Pemerintahan Inggris tidak berusaha mengikat tali persahabatan dengan rakyat India, sedang kestabilan dalam pemerintahan bergantung pada hubungan baik dengan rakyat. Sikap tidak menghargai dan menghormati rakyat India, membawa kepada akibat yang tidak baik terutama umat Islam.

Pemikiran Ahmad Khan di bidang keislaman antara lain, ia melihat bahwa umat Islam India mundur karena mereka tidak mengikuti perkembangan zaman. Peradaban Islam klasik telah hilang dan telah timbul peradaban baru di barat. Dasar peradaban baru adalah IPTEK Barat dan bangsa Eropa yang mengolah demikian rupa IPTEK untuk memudahkan mewujudkan keinginan-keinginan mereka, termasuk dalam menaklukkan umat Islam. Penaklukan dapat dilakukan dengan mudah, karena umat Islam tidak memiliki kelebihan di bidang yang dikuasai Bangsa Barat.

IPTEK modern adalah hasil olah pemikiran manusia, karena itu dunia barat mendapat penghargaan yang tinggi. Kalau umat Islam mau maju harus mau menghargai akal pikiran. Sayyid Ahmad Khan sangat menghargai akal pikiran rasional, walaupun ia percaya bahwa kekuatan dan kebebasan serta kemerdekaan manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatan, akan diserahkan sepenuhnya kepada manusia itu sendiri. Dengan kata lain, ia mempunyai paham Qadariah (free will and free act) dan tidak berpaham Jabariah atau fatalisme.

Menurut Sayyid Ahmad Khan, kebencian orang-orang Islam teradap ilmu pengetahuan barat hanya mengakibatkan kemunduran bagi umat Islam di India. Adapun orang-orang hindu sudah jauh melangkah maju dalam lapangan ilmu pengetahuan, karena mereka mempergunakan kesempatan sebaik baiknya, untuk mengeruk sebanyak mungkin ilmu pengetahuan yang berasal dari barat itu.

Menurut Prof. J.A. Tyonbee, ada dua respon, (umat) islam terhadap tantangan dari peradaban barat, yang pertama disebut cara zealotisme, yaitu cara menutup diri secara fanatik terhadap peradaban barat, mereka tidak mau tahu adanya pengaruh barat dan ingin kembali secara introvert kepada penghidupan Islam zaman dahulu. Kedua adalah cara herodianisme, yakni bersedia membuka pintu terhadap pengaruh peradaban barat, mana yang buruk ditolaknya, dan mana yang baik diambilnya, terutama dibidang teknologi dan perjuangan barat untuk kemudian digunakan memukul barat.

Sayyid Ahmad Khan melihat bahwa umat Islam india harus mengikuti perkembangan zaman. Peradaban Islam klasik telah hilang dan telah muncul peradaban baru di barat. Dasar peradaban baru ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Karma dengan ilmu ini pengetahuan dan teknologilah Barat menjadi kuat dan maju.

PENUTUP

Kesimpulan

Darul Ulum, sebuah lembaga pendidikan di kawasan Saharanpur, India bagian utara. Lembaga ini didirikan pada tahun 1867 sebagai maktab biasa, kemudian menjadi terkenal karna peranan tokoh-tokohnya seperti M.Q Nanotawi, R.A gangohi, Mahmud Al-Hasan dan A.H Madani dalam memperjuangkan kepentingan kaum muslimin di Anak Benua India, dengan cara mereka yang khas. Karena peranannya yang demikian lembaga ini sering disebut sebagai “Gerakan Deoband”. Memang , berakhirnya kekuasaan Mughal dan semakin kokohnya posisi Inggris di anak Benua, telah membuka kesempatan bagi para pemuka muslim seperti ulama Deoband guna memperluas pengaruh di masyarakat.

Nama sebuah kota besar di Distrik Aligarh, Uttar Parades Barat, India ini telah diasosiasikan dengan pusat kegiatan pendidikan, politik, dan ideologis muslim utama sejak akhir abad kesembilan belas. Berjarak 126 kilometer kearah selatan Delhi, kota ini -juga dikenal sebagai Koil- pada 1865 menjadi markas besar Aligarh Scientific Society (Masyarakat ilmiah Aligarh), dan sepuluh tahun kemudian menjadi Mahomedan Anglo Oriental College (MAOC). Kedua kolese itu, dipimp[in oleh sayid Ahmad Khan (1817-1898), didirikan dengan tujuan agar Ilmu-ilmu Eropa konteporer dapat diakses oleh public yang memiliki hak istimewa khususnya kaum muslim. Pada tahun 1920, kolese tersebut dikembangkan menjadi Universitas Muslim Aligarh (UMA) yang otonom dan berhak menganugrahkan gelar kesarjanaan. Setelahj pemisahan India, dan terbentuknya Pakistan sebagai Negara-negara tersendiri bagi Muslim Asia selata, UMA masih tetap di India sebagai salah satu di antara kelompok kecil universitas nasional.



[1] http://miftachulmaayis-myblog.blogspot.com

[2] Ensiklopedi Islam Indonesia, penerbit Djambotan, Jakarta: 1992 h. 210

[3] Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, PT Mizan, jilid pertama, Bandung: 2007 h. 367-368

[4] Drs. Ahmad Syaukani M.A, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia Bandung, Bandung: 1997 h. 70

About these ads

Responses

  1. artikel yang sangat bermanfaat
    terima kasih infonya

  2. bagus, numpang baca

  3. ozii, trimss, atas postingannya,,

  4. ada makala tentang teologi menurut iqbal nggak ya?? sepanjang saya hunting di internet hampir tidak pernah saya dapatkan..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: