Posted by: mudakir fauzi | April 18, 2009

Pendidikan Periode Madrasah

PENDAHULUAN
Pendidikan yang dilaksanakan pada masa awal perkembangan islam berfilsafat informal yang penamaan lebih terkait dengan upaya-upaya dakwah islamiyah, penyebaran dan dasar-dasar keperayaan serta ibadah Islam. Sedangkan pendidikan formal islam baru muncul dengan kebangkitan madrasah.
Lembaga pendidikan madrasah adalah kelanjutan dari lembaga pendidikan dalam bentuk masjid, karena banyaknya murid-murid yang datang dari luar kota untuk belajar di masjid menuntut danya tempat tinggal yang disebut dengan khan (semacam asrama) sehingga terjadi perubahan dari masjid kemasjid khan. Selanjutnya dari masjid khan berubah kebentuknya ke bentuk madrasah.
Dengan adanya madrasah bertanda bahwa pendidikan islam telah mengalami kemajuan pesat. Masjid yang telah tumbuh sejak masa awal islam pada dasarnya hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dengan sedikit kegiatan pendidikan didalamnya. Masjid khan walaupun telah menyelenggarakan kegiatan pendidikan namun kegiatan pendidikan bukanlah merupakan faktor utama. Dengan adanya madrasah maka kegiatan pendidikan semakin sempurna. Madrasah bukanlah sebagai pengganti masjid kenyataanya madarasah mempunyai masjid didalamnya nmun rumah ibadah bukanlah fungsi utama dari madrasah.
Pembahasan
A. Pengertian Madrasah
Madrasah merupakan isim makan dari katab darasa yang berarti tempat duduk untuk belajar. Istilah madrasah ini sekarang telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan (terutama perguruan islam). Karenanya istilah madrasah tidak hanya diartikan sekolah dalam arti sempit tetapi juga bisa dimaknai rumh, istana, kuttab, perpustakaan, surau, masjid, dan lain-lain. Bahkan juga seorang ibu bisa dikatakan sebagai madrasah pemula.
B. Sejarah dan Latar Belakang Berdirinya Madrsah
Dalam sejarah pendidikan islam makna dari madrasah tersebut memegang peran penting sebagai institusi belajar umat islam selama pertumbuhan adan perkembangannya. Sebab pemakaian istilah madrasah secara definitife baru muncul pada abad ke-11. Penjelmaan istilah madrasah merupakan transformasi tersebut antara lain; George Makdisi (1981) menjelaskan bahwa madrasah merupakan transformasi institusi pendidikan islam dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung melalui tiga tahap; pertama tahap masjid, kedua tahap masjid khan, dan ketiga tahap madrasah. Sedangkan Ahmad Syalabi menjelaskan bahwa transformasi masjid ke madrasah terjadi secara langsung Karena disebabkan oleh konsekuensi lagis dari semakin ramainya kegiatan yang dilaksanakan di masjid yang tidak hanya dalam kegiatan ibadah (dalam arti sempit) namun juga pendidikan, politik, dan sebagainya.
Terkait dengan sejarah munculnya madrasah, para pemerhati sejarah berbeda pendapat tentang madrasah pertama yang berdiri namun dalam ada beberapa pendapat yang cukup representatif yang bisa diungkapkan tentang sejarah pertama berdirinya madarasah sebagai institusi pendidikan islam pada masa awal. Menurut Ali al-Jumbulati (1994) sebelum abad ke-10 M dikatakan bahwa madrasah yang pertama berdiri adalah madrasah al-Baihaqiah dikota Nisabur. Disebut al-Baihaqiah karena ia didirikan oleh Abu Hasan al-Baihaqi (w. 414 H). pendapat ini diperkuat juga oleh Hasan Ibrahim Hasan.
Kedua pendapat diatas diperkuat oleh hasil penelitian Richard Bulliet (1972) yang menemukan dalam dua abad sebelumnya berdirinya madrasah Nizamiah telah berdiri madrasah di Nisapur, yaitu Madrasah Miyan Dahliya yang mengajarkan fiqih Maliki. Abdul al-Al (1977) menjelaskan bahwa pada masa sultan Mahmud al-Ghaznawi (998-1020) telah berdiri madrasah Sa’diyah. Demikian juga naji ma’ruf (1973) berpendapat bahwa madrasah pertama telah didirikan 165 tahun sebelum berdiri madrasah Nizamiyyah yaitu sebuah madrasah dikawasan Khurasa. Ia mengemukakan bukti di Tarikh al-Bukhori dijelaskan bahwa Ismail ibn Ahmad Asad (w. 295 H) memiliki madrasah yang dikunjungi oleh pelajar untuk melanjutkan pelajaran mereka.
C. Madrasah Nizamiyah
Pada tahun 1067 M Nizham al-Mulk mendirikan perguruan tinggi besar di Bagdad yang kemudian menjadi model bagi Islam ortodoks (salaf) yang diberi nama Nizhamiyah sesuai dengan nama pendirinya. Nizham al-Mulk tidak hanya mendirikan satu madrasah Nizhamiyyah yang ada di Bagdad saja, tetapi juga diberbagai daerah yang berada di bawah kekuasan Bani Saljuk yaitu di Balkh, Nisapur, Heart, Isfahan, Basrah, Merw, Anul, dan Mosul. Memang diantara madrasah yang didirikan Nizham al-Mulk yang paling terkenal adalah madrasah Nizhamiyyah di bagdad.
Madrasah Nizhamiyyah yang didirikan oleh Nizham al-Mulk pada mulanya didasari motif sectarian yaitu untuk memajukan golongan sunni, namun pada perkembangan selanjutnya pengaruh madrasah Nizhamiyyah ini tidak hanya menguntungkan bagi kaum sunni saja tetapi juga berpengaruh positif terhadap perkembangan dunia islam pada umumnya dan dunia pendidikan pada khususnya.
Ada beberapa motif didirikannya madrasah Nizhamiyyah oleh Nizham al-Mulk di antaranya:
a) Pendidikan
Tidak diragukan lagi bahwa Nizham al-Mulk memberikan aperhatian yang besar terhadap pendidikan. Nizham al-Mulk adalah seorang yang cinta ilmu pengetahuan. Nizham al-Mulk menyadari pentingnya keberadaan madrasah dalam menyingkapi kekurangan sistem pendidikan masjid. Diketahui bahwa masjid pada masa awal merupakan tempat yang serba guna. Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah tapi juga sebagai lembaga pengajaran, rumah pengadilan, aula pertemuan bagi tentara dan rumah penyambutan para duta.
b) Konflik Antar Kelompok Keagamaan
karir politik Nizham al-Mulk secara langsung berkaitan dengan kondisi politik pada masa itu. Pada abad ke 5 terjadi konflik antara kelompok-kelompok keagamaan dalam islam. Misalnya, Syiah, Mu’tazillah, Asy’ariyyah, Hanafiah, Hambaliah dan Syafi’iyah. Ketika khalifah Abbasiyah lemah, berdiri dinasti baru yaitu dinasti Buwaih yang beraliran Syi’ah Ismailiyah yang mendukung pemikiran rasional dan menganut paham teologi yang sama dengan Mu’tazillah. Pada amasa ini pengajaran ilmu-ilmu filosofis dan ilmu pengetahuan yang dijauhi oleh masyarakat Sunni dihadapkan kembali. Banyak tokoh Mu’atazillah yang diberi posisi penting dalam pemerintahan. Menanggapi hal ini Dinasti Saljuk merasa bertanggung jawab untuk melancarkan propoganda melawan paham Syi’ah yang telah ditanamkan Bani Buwaih.
Sebagai seorang wazir, Nizham al-Mulk harus memperhatikan suatu sistem administrasi negara yang sangat besar yang melibatkan teritori yang sangat luas, berisi penduduk dengan berbagai latar kebangsaan, budaya dan afiliasi keagamaan. Salah satu aadalah membangun satu aadministrasi sentral yang kokoh dengan sistem kendali yang kuat dan berpengaruh.
c) Politik
Persoalan yang pertama kali timbul setelah wafatnya Rasulullah adalah persoalan politik. Dalam perkembangan selanjutnya dari persoalan politik kemudian berkembang menjadi persoalan teologi. Hal ini berarti bahwa masalah politik menjadi faktor pendorong perkembangan pemikiran dalam islam. Faktor tersebt sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam islam.
Berkaitan dengan hal di atas, diketahui bahwa pendirian madrasah Nizhamiyah tidak terlepas dari faktor politik. Hal ini dapat dilihat dari tujuan pendirian marasah itu sendiri. Menurut Abd al-Madjid Abd al-futuh Badawi seagaimana yag dikutip oleh Maksum, Madrasah Nizhamiyah didirikan dengan tiga tujuan:
Pertama, menyebarkan pemikiran sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran syi’ahm, kedua, menyediakan guru-guru sunni yang cakap untuk mengajarkan mazhab sunni dan menyebarkan ke tempat-tempat lain; ketiga, membentuk kelompok-kelompok pekerja sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantornya, khususnya di bidang peradilan dan manajemen.
d) Kurikulum
Dilihat dari muatan kurikulumnya agaknya pada madrasah Nizhamiyyah belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Penentuan kurikulum pendidikan tainggi islam berada ditangan ulama kelompok orang yang berpengaruh dan diterima sebagai otoritatif dalam soala-soal agama dan hukum. Ilmu-ilmu agama masih mendominasi kurikulum pendidikan atau dengan kata lain sebagaimana menurut Makdisi yang dikutip oleh Hasan Asari, ilmu-ilmu keislaman memegang control penuh atas lembaga-lembaga pendidikan.
e) Pengajar dan Staf Madrasah
Selain berperan secara fisik terhadap perkembangan madrasah Nizhamiyyah, Nizham al-Mulk juga berperan dalam menetapkan guru-guru yang akan mengajar pada madrasah Nizhamiyyah, beliau menetapkan jabatan-jabatan penting seperti mudarris (staff pengajar ayang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengajaran), wa’idh (yang memberikan ceramah-ceramah umum di madrasah), mutawalli al-kuttub (pustaka), muqri’ (yang membaca dan mengajarkan al-Qur’an) dan nahwi (ahli gramitical bahasa arab). Orang-orang yang dipilih oleh Nizham al-Mulk tersebut adalah mereka yang menganut mazhab Syafi’i, paling untuk tiga jabatan (mudarris, wa’idh, dan mutawalli al-kuttub) diharuskan bermazhab Syafi’i karena ketiga jabatan tersebut yang paling berhak dan punya otoritas penuh menentukan arah dan kebijakan madrasah itu, bahkan dlam banyak kasus seorang mudarris juga bisa berfungsi sebagai administrator atas nama pendirinya.
Sebagai madrasah terbesar dizamannya, guru-guru yang mengajar pada madrasah Nizhamiyyah adalah tokoh-tokoh yang punya reputasi tinggi, misalnya Imam al-Ghazali, Abu Ishaq al-Syirazi salah seorang ulama fiqih mazhab Syafi’i yang sangat terkenal pada masanya, al-Kiya al-Harasyi, al-Juwaini dan lain-lain.
D. Madrasah Al-Azhar
Setelah sesuatu membangun kota Kairo lengkap dengan istananya, Jawhar al- Siqili mendirikan Masjid al-Azhar pada tanggal 17 Ramadhan tahun 359 H (970 M). Di kemudian hari masjid ini berkembang menjadi sebuah universitas besar pada akhir masa al-Muiz li Dinillah al-Fatimi pada bulan Shafar 365 H (Oktober 975 M) yang sampai sekarang masih berdiri megah. Nama al-Azhar diambil dari al-Zahra julukan Sayyidah Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW dan istri Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Imam pertama Syi’ah.
Dr. Hasanain Rabi’ berpendapat bahwa pada abad ke 9 H (abad XV M) merupakan masa kejayaan bagi al-Azhar, karena pada masa itu al-Azhar menempati tempat tertinggi diantara madrasah-madrasah dan perguruan tinggi yang ada di Kairo. Ketika itu, al-Azhar sebagai induk madrasah juga sebagai perguruan tinggi terbesar yang tidak ada rivalnya dia manapun, para ulama dari berbagai negara juga datang mengunjungi al-Azhar untuk belajar.
Prof. Dr. Azyumardi Azra berpendapat sebagai sebuah perguruan tinggi yang sudah berusia tua, al-Azhar pun mengalami pasang dan surut dalam perkembangannya. Sejak masa Dinasti Usmani (1517-1798 M) pamor al-Azhar mulai menurun, sehingga menjadi alasan kuat bagi penguasa pembaru seperti Muahammad Ali untuk campur tangan lebih jauh dalam pembenahan al-Azhar sejak paroan pertama abad ke 19, kenyataan inilah yang menjadi presiden lenyapnya indepedensi al-Azhar sebagai lembaga akademis yang pada gilirannya juga mempengaruhi otoritas atau kewibawaanya, khususnya adalam hubungannya dengan kekuasaan politik hingga dewasa ini.
Pada masa Fatimiyah, materi pelajaran yag diajarkan di al-Azhar, disamping tentang ke-Fatimiyahan juga dipelajari ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah antara lain; Fiqih, Hadist, Tafsir, Nahwu, Ilmu tafsir, Ilmu Qira’at, Ilmu Hadist dan ilmu Kalam.
Pada maaa Mamalik, sistem pembelajaran al-Azhar adalah para mahasiswa diberikan kebebasan memilih mata kuliah yang dipelajarinya sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasai oleh masng-masing dosen. Setelah mahasiswa dapat menguasai disiplin ilmu yang dapat diberikan oleh seorang dosen, maka ia dipersilahkan untuk memilih dosen lain untuk mempelajari mata kuliah ayang berbeda. Bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan kuliahnya kepada seorang dosen, maka ia akan diberi syahadat (ijazah). Dalam ijazah tersebut diterangkan nama mahasiswa, nama dosen, mazhab, serta tanggal ijazah dikeluarkan.
Syekh Hasan al-Athar adalah diantara ulama yang berjasa kepada al-Azhar terutama dengan idenya agar al-Azhar memasukkan atau mengajarkan kuliah filsafat satra, geografi, sejarah dan thabi’i, yang sebelumnya dilarang di al-Azhar. Idenya yang lain adalah agar setiap permasalahan yang muncul hendaknya merujuk kepada kitab aslinya (sumber primer). Pada tahun 1827 M, ia diangkat sebagai dosen di al-Azhar.
Membahas tentang reformasi pendidikan di al-Azhar, Muhammad Abduh adalah salah satu tokoh reformis yang lahir pada tahun 1849 M di Mahallata Nasr sebuah desa di Mesir. Di antara pemikirannya yang berkaitan dengan reformasi sistem pendidikan di al-Azhar adalah:
1. Ia menentang pengkafiran terhadap segala sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan. Seperti membaca buku geografi, ilmu alam, atau filsafah adalah haram, memakai sepatu adalah bid’ah.
2. Materi pelajaran yang diberikan di al-Azhar tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama, tetapi ia juga memperkenalkan sekaligus mengajarkan filsafat, sejarah, dan peradaban Eropa, teologi serta logika.
3. Ia tidak setuju dengan metode pengajaran di al-Azhar yang telah memperkenalkan kepad aspek penghafalan, tetapi ia lebih menekankan kepada mahasiswa untuk dididik berfikir.
Pada tahun 1983 Universitas al-Azhar kembali membuka lima fakultas baru dengan demikian sampai dengan akhir tahun 1983 jumlah fakultas di Universitas al-Azhar berjumlah 39 fakultas. Tokoh-tokoh yang pernah menjabat sebagai rektor pada Universitas al-Azhar, antara lain;
a) Prof. Dr. Muhammad Baha
b) Syeikh Ahmad Hasan al-Baquri
c) Prof. Dr. Badawi Abdul Latif
d) Prof. Dr. Abdul Fatah
e) Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim
Adapun tokoh-tokoh yang pernah menjabat sebagai Syeikh al-Azhar, adalah;
a) Syeikh Imam Muahammad al-Khurasyi
b) Syeikh Imam Ibrahim al-Barnawi
c) Syeikh Imam Muhammad al-Nasyrati
d) Syeikh Imam Abdul Baqi aal-Qalini
e) Syeikh ImamMuhammad Syunan
f) Syeikh Imam Ibrahim al-Fayuni
g) Syeikh Imam Abdullah al-Syabrawi
h) Syeikh Imam Muhammad al-Hifni
i) Syeikh Imam Abdul Rauf al-Sajini
j) Syeikh Imam Ahmad Damanhuri
k) Syeikh Imam Ahmad al-‘Arusi
l) Syeikh Imam Abdullah al-Syanwani
m) Syeikh Imam Muhammad al-Syanwani
n) Syeikh Imam Muhammad al-‘Arusi
o) Syeikh Imam Ahmad al-Damhuji

Kesimpulan
Madrasah Nizhamiyyah merupakan madrasah yang didirikan oleh Nizham al-Mulk. Madrasah itu disebut juga dengan madrasah syariah oleh karena intensitasnya dalam pengembangan mazhab Syafi’i berbeda dengan madrasah Bait al-Hikmah yang labih terfokus pada pengembangan ajaran Mu’tazillah dan filsafat, sehingga disebut madrasah filsafat.
Perkembangan madrasah ini sangat banyak ditentukan oleh patronase kekuasaan Nizham al-Mulk. Hal ini dikarenakan Nizham al-Mulk sebagai penguasa lebih banyak memberikan bantuan baik secara moril maupun materil pada masa itu.
Madrasah ini mengambil tempat besebrangan dengan filsafat. Hal ini agaknya dapat dipahami karena periode ini dikenal sebagai periode dimana munculnya ketidaksenangan umat terhadap pikiran-pikiran filsafat dan para filosof.
Meskipun pada awalnya al-Azhar merupakan sebuah masjid namun pada perkembangannya berubah menjadi sebuah Universitas tertua di dunia yaitu pada akhir masa al-Muiz Lidinillah al-Fatimi pada bulan Shafar tahun 365 H (Oktober 975 M). Hal ini merupakan bukti historis monumental sebagai produk kemajuan peradaban islam di Mesir. Seiring dengan perjalanan waktu yang ters berputar sebagai sebuah institusi pendidikan, al-Azhar juga mengalami pasang surut. Hal ini erat kaitannya dengan Syeikh atau rektor yang menjabat pada masanya, karena jabatan ini tidak hanya akademis, tetapi juga memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan arah kebijakan politis.
Di antara tokoh-tokoh yang berjasa dalam mereformasi sistem pendidikan al-Azhar antara lain; Muhammad Ali, al-Tahtawi, Syeikh Hasan al-‘Athar juga Muhammad Abduh. Merekalah pencair kejumud-an wawasan berpikir serta pendobrak dikotomisasi ilmu pengetahuan.


Responses

  1. klo bisa tiap artikel ada referensi na……

  2. tlong stp tulisan disertakan catatan kaki dan daftar pustaka


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: