Posted by: mudakir fauzi | May 4, 2009

tugas

http://id.wikipedia.org/wiki/kesultanan_siak_sri_indrapura.com

Kesultanan Siak Sri Indrapura sering disebut juga sebagai Kesultanan Siak adalah sebuah kerajaan yang berdiri pada tahun 1723-1946 di daerah Provinsi Riau sekarang, tepatnya di kabupaten Siak. Ibukotanya adalah Siak Sri Indrapura. Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah putera raja Johor (Sultan Mahmud Syah dengan istrinya Encik Pong pada tahun 1723 setelah ggal merebut tahta kesultanan Johor. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di daerah tersebut.

http://kloped.blogspot.com/2007/11/kerajaan-siak-sri-indrapura.html:

sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak Berada dibawah kekuasaan Johor yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan diangkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut. Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II meninggal dibunuh oleh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik pong pada saat itu sedang hamil dan dilarikan ke Singapurna terus ke Jambi. Dalam perjalanan tersebut lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Sementara itu pucuk kepemimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendaharatun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

http://anandra.wordpress.com/2008/03/17/sejarah-singkat-kerajaan-siak.com

Setelah Raja Kecik dewasa yaitu pada tahun 1717, beliau berhasil merebut tahta Johor. Tetapi lima tahun kemudian tepatnya pada tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman kakak ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul jalil Riayat Syah. Dalam merebut kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang sedangkan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan kemudian mendirikan negeri baru dipinggir sungai Buantan (anak sungai Siak).

http://mellyrodhyta.blogspot.com/2008/11/situs-sejarah.html.

Karena merasa aman dan tentram di Buantan, maka ia menetapkan untuk menetap dan oleh rakyat Siak setempat Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (raja Kecik) diangkat sebagai Sultan Siak dengan gelar yang sama ketika ia masih menjadi raja di Kemaharajaan Melayu.

http://melayuonline.com/history/kerajaan-siak.

Kesultanan Siak bisa dijadikan sebagai eksemplar contoh ihwal kuatnya kesadaran akan arti penting lautan. Sejarah periode-periode pertama Kesultanan Siak disibukkan oleh semangat untuk menguasai dan mangamankan selat Malaka sebagai bagian penting dari eksistensi Siak. Sultan Siak pertama, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah yang terkenal dengan julukan Raja Kecik memiliki kesadaran yang kuat akan arti penting menegakkan kedaulatan dilautan tepatnya di Selat Malaka dan sepanjang pantai timur Sumatera.

Silsilah

http://id.wikipedia.org/wiki/kesultanan_siak_sri_indrapura.com

Berikut ini urutan raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Siak.

  1. Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah Almarhum Buantan (1723-1744 M)
  2. Sultan Mohammad Abdul Jalil Jalaladdin Syah (1744-1760 M)
  3. Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaladdin Syah (1760-1761M)
  4. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1761-1766 M)
  5. Sultan Mohammad Ali Abdul Jalil Mu’azam Syah (1766-1779 M)
  6. Sultan Ismail Abdul Jalil rahmad Syah (1779-1781 M)
  7. Sultan yahya Abdul Jalil Muzafar Syah (1782-1784 M)
  8. Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin (1784-1811 M)
  9. Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Kholiluddin (1811-1827 M)

10.  Sultan Assyaidis Syarif  Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (1827-1864 M)

11.  Sultan Assyaidis Syarif  Kasim I Abdul Jalil Syaifuddin (1864-1889 M)

12.  Sultan Assyaidis Syarif  Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908 M)

13.  Sultan Assyaidis Syarif  Kasim II Abdul Jalil Syaifuddin (1908-1946 M)

Wilayah Kekuasaan

http://kafilah.wordpress.com/2007/11/12/kerajaan-siak-sri-indrapura

Wilayah kekuasaan Siak meliputi kawasan sekarang ini, pekan Baru, Rokan, Kubu, Tanah Putih, Bangka, Kulo, Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, dan Deli. Sementara daerah Tapung yang terdiri dari dua persekutuan yaitu Tapung kiri dan Tapung kanan, melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Siak. Siak juga pernah beberapa kali melakukan ekspansi wilayah hingga ke Kedah dan Pahang, namun gagal merebut negeri-negeri tersebut. Siak juga pernah menyerang kerajaan Sambas di Kalimantan Barat dan berhasil menguasai negeri tersebut untuk beberapa lama.

Sumbangan (Peninggalan)

Istana Siak

http://melayuonline.com/history/kerajaan-siak.

Kabupaten Siak memiliki beberapa bangunan peninggalan kolonial yang sekarang dfungsikan sebagai perkantoran, rumah tinggal, penginapan, toko oleh masyaraka setempat. Salah satunya peninggalan yang terkenal dengan bangunan bercirikan arsitektur gabungan antara Melayu, Arab dan Eropa adalah Istana Siak. Untuk dapat melihat bangunan-bangunan Melayu tempo dulu yang juga dijuluki sebagai Istana Matahari Timur, jarak yang ditempuh dari sebelah timur Pekan Bru mencapai empat jam perjalanan lewat sungai hingga menuju kabupaten Siak Sri Indrapura.

Istana Siak yang juga dinamakan Asserayah hasyimiah dibangun oleh Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 oleh arsitek berkebangsaan Jerman. Arsitektur bengunan merupakan gabungan antara arsiktektur Melayu, arab dan Eropa. Bangunan sendiri terselesaikan pada tahun 1893 yang pada dindingnya dihiasi dengan keramik yang khusus didatangkan dari Prancis. Beberapa koleksi benda antik Istana kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta dan di Istananya sendiri menyimpan duplikat dari koleksi tersebut.

Jembatan Istana

http://www.bangrusli.net

Jembatan Istana berada sekitar 100 meter disebelah tenggara komplek Istana Siak. Jembatan tersebut berangka pada tahun 1899. dibawah jembatan Istana terdapat sungai (parit).

Balai Kerapata Tinggi Siak

http://www.siakkab.go.id

Balai Kerapatan Tinggi Siak pada masa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889. Bangunan tersebut menghadap ke arah sungai. Balai Kerapatan Tinggi Siak berfungsi sebagai tempet pertemuan (sidang) sultan dengan panglima-panglimanya.

Masjid Syahabuddin

Masjid ini merupakan masjid kerajaan Siak yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Kasim I. Bangunan masjid ini sudah berkali-kali mengalami perbaikan akan tetapi masih mempertahankan bentuk aslinya.

Makam Sultan Kasim II

Makam ini berada di belakang masjid Syahabuddin tokoh utama yang dimakamkan yang disebut sebagai Sultan Kasim II (Sultan terakhir yang meninggal pada 23 April 1968 M)

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:872421775; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1884763820 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:144.0pt; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

http://id.wikipedia.org/wiki/kesultanan_siak_sri_indrapura.com

Kesultanan Siak Sri Indrapura sering disebut juga sebagai Kesultanan Siak adalah sebuah kerajaan yang berdiri pada tahun 1723-1946 di daerah Provinsi Riau sekarang, tepatnya di kabupaten Siak. Ibukotanya adalah Siak Sri Indrapura. Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah putera raja Johor (Sultan Mahmud Syah dengan istrinya Encik Pong pada tahun 1723 setelah ggal merebut tahta kesultanan Johor. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di daerah tersebut.

http://kloped.blogspot.com/2007/11/kerajaan-siak-sri-indrapura.html:

sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak Berada dibawah kekuasaan Johor yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan diangkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut. Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II meninggal dibunuh oleh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik pong pada saat itu sedang hamil dan dilarikan ke Singapurna terus ke Jambi. Dalam perjalanan tersebut lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Sementara itu pucuk kepemimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendaharatun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

http://anandra.wordpress.com/2008/03/17/sejarah-singkat-kerajaan-siak.com

Setelah Raja Kecik dewasa yaitu pada tahun 1717, beliau berhasil merebut tahta Johor. Tetapi lima tahun kemudian tepatnya pada tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman kakak ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul jalil Riayat Syah. Dalam merebut kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang sedangkan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan kemudian mendirikan negeri baru dipinggir sungai Buantan (anak sungai Siak).

http://mellyrodhyta.blogspot.com/2008/11/situs-sejarah.html.

Karena merasa aman dan tentram di Buantan, maka ia menetapkan untuk menetap dan oleh rakyat Siak setempat Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (raja Kecik) diangkat sebagai Sultan Siak dengan gelar yang sama ketika ia masih menjadi raja di Kemaharajaan Melayu.

http://melayuonline.com/history/kerajaan-siak.

Kesultanan Siak bisa dijadikan sebagai eksemplar contoh ihwal kuatnya kesadaran akan arti penting lautan. Sejarah periode-periode pertama Kesultanan Siak disibukkan oleh semangat untuk menguasai dan mangamankan selat Malaka sebagai bagian penting dari eksistensi Siak. Sultan Siak pertama, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah yang terkenal dengan julukan Raja Kecik memiliki kesadaran yang kuat akan arti penting menegakkan kedaulatan dilautan tepatnya di Selat Malaka dan sepanjang pantai timur Sumatera.

Silsilah

http://id.wikipedia.org/wiki/kesultanan_siak_sri_indrapura.com

Berikut ini urutan raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Siak.

1. Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah Almarhum Buantan (1723-1744 M)

2. Sultan Mohammad Abdul Jalil Jalaladdin Syah (1744-1760 M)

3. Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaladdin Syah (1760-1761M)

4. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1761-1766 M)

5. Sultan Mohammad Ali Abdul Jalil Mu’azam Syah (1766-1779 M)

6. Sultan Ismail Abdul Jalil rahmad Syah (1779-1781 M)

7. Sultan yahya Abdul Jalil Muzafar Syah (1782-1784 M)

8. Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin (1784-1811 M)

9. Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Kholiluddin (1811-1827 M)

10. Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (1827-1864 M)

11. Sultan Assyaidis Syarif Kasim I Abdul Jalil Syaifuddin (1864-1889 M)

12. Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908 M)

13. Sultan Assyaidis Syarif Kasim II Abdul Jalil Syaifuddin (1908-1946 M)

Wilayah Kekuasaan

http://kafilah.wordpress.com/2007/11/12/kerajaan-siak-sri-indrapura

Wilayah kekuasaan Siak meliputi kawasan sekarang ini, pekan Baru, Rokan, Kubu, Tanah Putih, Bangka, Kulo, Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, dan Deli. Sementara daerah Tapung yang terdiri dari dua persekutuan yaitu Tapung kiri dan Tapung kanan, melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Siak. Siak juga pernah beberapa kali melakukan ekspansi wilayah hingga ke Kedah dan Pahang, namun gagal merebut negeri-negeri tersebut. Siak juga pernah menyerang kerajaan Sambas di Kalimantan Barat dan berhasil menguasai negeri tersebut untuk beberapa lama.

Sumbangan (Peninggalan)

Istana Siak

http://melayuonline.com/history/kerajaan-siak.

Kabupaten Siak memiliki beberapa bangunan peninggalan kolonial yang sekarang dfungsikan sebagai perkantoran, rumah tinggal, penginapan, toko oleh masyaraka setempat. Salah satunya peninggalan yang terkenal dengan bangunan bercirikan arsitektur gabungan antara Melayu, Arab dan Eropa adalah Istana Siak. Untuk dapat melihat bangunan-bangunan Melayu tempo dulu yang juga dijuluki sebagai Istana Matahari Timur, jarak yang ditempuh dari sebelah timur Pekan Bru mencapai empat jam perjalanan lewat sungai hingga menuju kabupaten Siak Sri Indrapura.

Istana Siak yang juga dinamakan Asserayah hasyimiah dibangun oleh Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 oleh arsitek berkebangsaan Jerman. Arsitektur bengunan merupakan gabungan antara arsiktektur Melayu, arab dan Eropa. Bangunan sendiri terselesaikan pada tahun 1893 yang pada dindingnya dihiasi dengan keramik yang khusus didatangkan dari Prancis. Beberapa koleksi benda antik Istana kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta dan di Istananya sendiri menyimpan duplikat dari koleksi tersebut.

Jembatan Istana

http://www.bangrusli.net

Jembatan Istana berada sekitar 100 meter disebelah tenggara komplek Istana Siak. Jembatan tersebut berangka pada tahun 1899. dibawah jembatan Istana terdapat sungai (parit).

Balai Kerapata Tinggi Siak

http://www.siakkab.go.id

Balai Kerapatan Tinggi Siak pada masa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889. Bangunan tersebut menghadap ke arah sungai. Balai Kerapatan Tinggi Siak berfungsi sebagai tempet pertemuan (sidang) sultan dengan panglima-panglimanya.

Masjid Syahabuddin

Masjid ini merupakan masjid kerajaan Siak yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Kasim I. Bangunan masjid ini sudah berkali-kali mengalami perbaikan akan tetapi masih mempertahankan bentuk aslinya.

Makam Sultan Kasim II

Makam ini berada di belakang masjid Syahabuddin tokoh utama yang dimakamkan yang disebut sebagai Sultan Kasim II (Sultan terakhir yang meninggal pada 23 April 1968 M)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: