Posted by: mudakir fauzi | July 22, 2009

Konsep Pendidikan Islam Turki Utsmani

PENDAHULUAN

Umat Islam mengalami puncak keemasan pada masa pemerintahan Abbasiyah. Pada masa itu pada bermuncilan para pemikir islam kenamaan yang sampai sekarang pemikirannya masih diperbincangkan dan dijadikan dasar kebijakan bagi pemikiran dimasa mendatang, baik dalam bidang keagamaan maupun umum. Kemajuan Islam ini tercipta berkat usaha dari berbagai komponen masyarakat, baik ilmuan. Birokrat, agamawan, militer, dan ekonomi maupun masyarakat umum.

Keadaan politik islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah uncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, yaitu utsmani di turki, mughal di india, dan syafawi di persia. Kerajaan Utsmani disamping merupakan kerajaan islam yang pertama berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.

PEMBAHASAN

A. Sekilas Tentang Kerajaan Turki Utsmani

Pendiri bangsa ini adalah Bangsa Turki dan kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina dalam masa waktu sekitar tiga abad, mereka pindah ke-TurkistanPersia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke 9 atau ke 10 di bawah pimpinan Ortoghol. Mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin, Sultan Seljuk yang kebetulan berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin memperoleh kemenangan. atas jasa baik mereka itu, Alaiudin menghadiahkan sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukut sebagai Ibu kota. kemudian

Orthogol meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya Utsman.Orthogol inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Utsmani. Putra

Sebelum meninggal, Utsman menunjuk (untuk menggantikan posisinya) yang lebih muda dari pada kedua anaknya, Orkhan yang berusia 42 tahun, yang lebih dididik seorang prajurit dibawah pengawasan ayahnya, dan telah menunjukan kemampuannya didalam banyak peperangan, terutama didalam penaklukan Brusa.

Kerajaan Utsmani sangat gencar melakukan ekspansi guna meluaskan kekuasaannya, sehingga pada masa Orkhan sebagian dari wilayah Eropa telah ditundukan. Kerajaan ini telah mencapai gemilang bermula sejak awal abad ke 16 sewaktu Salim mengalahkan kekuatan Syafawi dan meluaskan wilayah keselatan sampai Mesir dan Hijaz. Kawasan ini memiliki arti penting dalam kehidupan keagamaan umat islam secara umum.

Wilayah kekuasaan Utsmani sejak abad ke 16 sangatlah luas, membentang dari BudepestYaman, dibagian selatan dan dari Basrah dibagian timur hingga ke Aljajair dibagian barat itu, dibagi dalam beberapa provinsi yamg masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur atau pasha. dibagian Utara sampai ke

Sampai abad ke 17, Turki Utsmani menikmati masa keemasan. Kekuatan militer Utsmani yang sangat tangguh menunjukan stabilitas kekuasaan. Kejayaan Utsmani mulai kelihatan pudar setelah sultan sulaiman meninggal dunia, yang mengakibatkan terjadinya perebutan kekuasaan antara putra-putranya.

Pada awal abad ke 18, Turki Utsmani berusaha mengembalikan kejayaan dengan melakukan reform yang sangat gencar. Bahkan Sultan Salim III (w. 1807) membuka sejumlah kedutaan Utsmani di Eropa. Kemudian Mahmud II (w. 1839) memperkenalkan berbagai lembaga pembaharuan yang banyak diilhami dari Barat, termasuk pendidikan, militer, ekonomi dan hukum. Priode ini kemudian dikenal dalam sejarah sebagai priode “Reorganisasi”. Berbagai usaha pembaharuan terus dilakukan oleh orang-orang Turki, baik dari kalangan ulama, kaum muda, cendikiawan maupun birokrat hingga abad ke 20.

Kerajaan Utsmani yang menjadi simbol Islam akhirnya hilang dari peredaran dunia dengan dihapusnya gelar khalifah tersebut. Dibawah kekuasaan Musthafalah pengaruh kekuasaan Sultan berakhir ditahun 1922, dan segera setelah itu khalifah sebagai institusi agamapun dihapus sehingga Musthafa sebagai pemimpin besar menjadi presiden pertama dari republik Turki baru. Dengan demikian berakhirlah kehidupan panjang dan seluruh kebesaran seluruh pemeintahan baru.[1]

B. Pendidikan Pada Masa Turki Utsmani

Setelah mesir jatuh dibawah kekuasaan Utsmaniyah Turki, lalu Sultan Salim memerintahkan, supaya kitab-kitab diperpustakaan dan barang-barang yang berharga di Mesir dipindahkan ke Istanbul. Anak-anak Sultan Mamluk, Ulama-Ulama, Pembesar-Pembesar yang berpengaruh di Mesir, semuanya dibuang ke Istambul, setelah mengundurkan diri sebagai khalifah dan menyerahkan pangkat khalifah itu kepada Sultan Turki.

Dengan demikian Sultan Turki memegang dua kekuasaan: kekuasaan sebagai Sultan dalam urusan duniawi dan kekuasaan sebagai Khalifah dalam urusan agama.

Dengan berpindahnya ulama-ulama dan kitab-kitab perpustakaan dari Mesir ke Istanbul, maka Mesir menjadi mundur dalam ilmu pengetahuan dan pusat pendidikan berpindah ke Istanbul, tempat kedudukan Sultan dan Khalifah.dan Istambullah yang menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan saat itu.

Selain itu Sultan Salim mengumpulkan kepala-kepala perusahaan yang termashur di Mesir berjumlah kurang lebih 1000 orang banyaknya. Semua mereka dipindahkan ke Istambul,Mesir terpaksa ditutup. Itulah salah satu sebab mundurnya perusahaan di Mesir pada masa Utsmaniyah Turki. sehingga 50 perusahaan di

Setelah Sultan Salim wafat, lalu digantikan oleh anaknya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (926-974 H. = 1520-1566 M). Pada masa Sultan Sulaiman itu kerajaan Utsmaniyah sampai kepuncak kebesaran dan kemajuan yang gilang gemilang dalam sejarahnya. Laut putih tengah, laut hitam, dan laut merah semua dalam kekuasaannya. Luas negaranya dari Makkah ke Budapes dan dari Baghdad ke Aljajair. Tetapi sesudah wafat Sultan Sulaiman kerajaan Utsmaniyah mulai mundur sedikit demi sedikit.

Pada masa Utsmaniyah Tuki pendidikan dan pengajaran mengalami kemunduran, terutama diwilayah-wilayah, seprti Mesir, Baghdad dan lain-lain. Yang mula-mula mendirikan madrasah pada masa Utsmaniyah Tuki ialah Sultan Orkhan (wafat tahun 761 H. = 1359 M.). kemudian diikuti oleh Sultan-Sultan keluarga Utsmaniyah dengan mendirikan madrasah-madrasah, yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Sultan-sultan pada masa Utsmaniyah banyak mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah terutama di Istambul dan Mesir. Tetapi tingkat pendidikan itu tidak mengalami perbaikan dan kemajuan sedikitpun. Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi kitab-kitab yang tidak sedikit bilangannya. Tiap-tiap orang bebas membaca dan mempelajari isi kitab itu. Bahkan banyak pula ulama, guru-gru, ahli sejarah dan ahli syair pada masa itu. Tetapi mereka-mereka itu hanya mempelajari kaidah-kaidah ilmu-ilmu Agama dan Bahasa Arab, serta sedikit ilmu berhitung utuk membagi harta warisan dan ilmu miqat untuk mengetahui waktu sembahyang. Mereka tidak terpengaruh oleh pergerakan ilmiyah di Eropa dan tidak mau pula mengikuti jejak zaman kemajuan Islam pada masa Harun Ar-Rasyid dan masa Al-Makmun, yaitu masa keemasan dalam sejarah Islam. Demikianlah keadaan pendidikan dan pengajaran pada masa Utsmaniyah Turki, sampai jatuhnya sultan /khalifah yang terakhir tahun 1924 M.[2]

Sistem pengajaran yang dikebangkan pada Turki Utsmani adalah menghafal matan-matan meskipun murid-murid tidak mengerti maksudnya, seperti menghafal Matan Al-Jurmiyah, Matan Taqrib, Matan Al-Fiyah, Matan Sultan, dan lain-lain. Murid-murid setelah menghafal matan-matan itu barulah mempelajari syarahnya. Karena pelajaran itu bertambah berat dan bertambah sulit untuk dihafalkannya. Sistem pengajaran diwilayah ini masih digunakan sampai sekarang. Pada masa pergerakan yang terakhir, masa pembaharuan pendidikan Islam di Mesir dan Syiria (Tahun 1805 M) telah mulai diadakan perubahan-perubahan di sekolah-sekolah (Madrasah) sedangkan di Masjid masih mengikuti sistem yang lama.[3]

Badri Yatim memberikan gambaran tentang kondisi ilmu pengetahuan pada masa Turki Utsmani sebagai berikut:

“Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak mefokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sedangkan dalam bidang ilmu pengetahuan mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karna itulah dalam khazanah Intelektual Islam kita kita tidak menemukan ilmuan terkemuka dari Turki Usmani. Namun demikian mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arstektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammmadi, atau Masjid Jami Sultan Muhammad Al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman Dan Masjid Abi Ayyub Al-Anshari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yag indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid asalnya gereja Aya Sofia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup gambar-gambar kristiani yang ada sebelumnya.”[4]

Meskipun pada masa Turki Utsmani pendidikan Islam kurang mendapat perhatian yang serius dan juga terhambat kemajuannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tiap-tiap masa pasti akan memunculkan tokoh-tokoh atau ulama-ulama kenamaan. Walaupun jumlah ulama pada masa itu tidak sebanyak pada masa Abbasiyah yang merupakan puncak keemasan Islam.[5]

C. Sistem Pengajaran di Turki

Sistem pengajaran pada masa Turki seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu dengan cara menghafal matan-matan, seperti menghafal Matan Ajrumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sullan dan lain-lain.[6]

Adapun tingkat-tingkt pengajaran di Turki adalah sebagai berikut:

  1. Tingkat Rendah (S.R.) 5 tahun
  2. Tingkat Menengah (S.M.P.) 3 tahun
  3. Tingkat Menengah Atas (S.M.A.) 3 tahun
  4. Tingkat tinggi (Universitas) 4 tahun

Dikelas IV dan V S.R. diajarkan ilmu Agama jika mendapatkan izin dari orang tua murid. Begitu juga diajarkan agama dikelas III Sekolah Menengah (S.M.P.) jika diminta oleh orang tua murid.

Selain itu ada juga sekolah Imam Chatib (sekolah agama) 7 tahun, 4 tahun pada tingkat menengah pertama dan tiga tahun pada tingkat menengah atas. Murid-murid yang diterima masuk sekolah imam chatib itu ialah murid-murid tamatan S.R 5 tahun. Untuk melanjutkan dari sekolah Imam Chatib didirikan Institut Islam di Istambul pada tahun 1959, dan pengajarannya berlangsung selama 4 tahun.

Dasar-dasar pengajarannya adalah sebagai berikut:

  1. Tafsir
  2. Hadis
  3. Bahasa Arab
  4. Bahasa Turki
  5. Filsafat
  6. Sejarah Kebudayaan Islam
  7. Ilmu Bumi
  8. dll.[7]

D. Ulama-ulama yang Termashur Pada Masa Utsmaniyah Turki

Ulama-ulama yang termashur pada masa Utsmaniyah Turki diantaranya yaitu:

  1. Syeikh Hasan Ali Ahmad As-Syafi’I yang dimasyhurkan dengan Al-Madabighy,Jam’ul Jawami dan syarah Ajrumiyah (wafat tahun 1170 H. = 1756M.) pengarang hasiyah
  2. Ibnu Hajar Al-Haitsami (wafat tahun 975H. = 1567M.) pengarang Tuhfah.
  3. Syamsuddin Ramali (wafat tahun 1004H. = 1959H.) pengarang Nihayah.
  4. Muhammad bin Abdur Razak, Murtadla Al-Husainy Az-Zubaidy, pengarang syarah Al-Qamus, bernama Tajul Urus (wafat tahun 1205H. = 1790M.)
  5. Abdur Rahman Al-Jabarity (wafat tahun 1240H. = 1825M.), pengarang kitab tarikh mesir, bernama Ajaibul-Atsar Fit-Tarajim Wal-Akhbar.
  6. Syekh Hasan Al-Kafrawy As-Syafi’I Al-azhary (wafat tahun 1202H. = 1787M.).pengarang kitab nahwu Syarah Ajrumiyah, barnama Kafrawy.
  7. Syeikh Sulaiman bin Muhamad bin Umar Al-Bijirmy As-Syafi’i (wafat tahun 1212H. = 1806M.), pengarang syarah-syarah dan hasyiah-hasyiah.
  8. Syeikh Hasan Al-Attar (wafat tahun 1250H. = 1834M.), ahli ilmu pasti dan ilmu kedokteran
  9. Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Arfah Ad-Dusuqy Al-Maliki (wafat tahun 1230H. = 1814M.) ahli filsafat dan Imu falak serta ahli ilmu ukur.[8]
  10. Nuruddin Ali Al-Buhairi (wafat tahun 944H. = 1537M.)
  11. Abdurrahman Al-Manawy (wafat tahun 950 H. = 1543M.)
  12. Syahabuddin Al-Quliyuby.
  13. Abdul-Baqybin Yusuf Az-Zarqany Al-Maliki(1099H. = 1687M.)
  14. Syeikh Abdulah Al-Syarqawy (Syeikh Al-Azhar) (wafat tahun 1227H. = 1812M.)
  15. Syekh Musthafa bin Ahmad As-Shawy (wafat tahun 1216H. = 1801H.)
  16. Syeikh Musthafa Ad-Damanhury As-Syafi’I (wafat tahun 1216H. = 1801H.).[9]

E. Lahirnya Sekolah-Sekolah (Madrasah-Madrasah) Pada Masa Pengaruh/Kekuasaan Turki

Pada permulaan masa Abbasiyah, bangsa Persia sangat berpengaruhdalam Negara Islam, sehingga kebudayaan Islam pun dipengaruhinya. Bahkan sistm pemerintahan Persia sebagiannya ada juga diambil oper oleh pemerintahan Islam.

Setelah hilang pengaruh Persia,lahirlah pengaruh turki. Pada masaitu berdirialah Madrasah-Madrasah (Sekolah-Sekolah) yang tidak sedikit bilagannya diseluruh negara Islam, yang didirikan oleh pemerintah sendiri.

Diantara sebaba-sebab banyaknya berdiri madrasah pada saat itu adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengambil hati rakyat
  2. Untukmengharapkan pahala dan ampunan dari Tuhan.
  3. Untuk memelihara kehidupan anaknya.
  4. Untuk memperkuat aliran keagamaan bagi sultan atau pembesar.[10]

F. Perpustakaan Pada Masa Utsmaniyah Turki

Perpustakaan pada masa kemajuan Islam tidak terhitung banyaknya diseluruh Negara Islam, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan khusus. Hampir diseluruh masjid dan madrasah-madrasah ada perpustakaan yang berisi bermacam-macam ilmu, terutama ilmu-ilmu Agama dan bahasa Arab.

Pada masa Utsmaniyah Turki, masa kemunduran pendidikan dan pengajaran Islam, perpustakaan sangat berkurang, hanya terdapat di Istambul dan sedikit di Mesir, Damsyik, Halab, dan Qudus. Jumlah perpustakaan pada masa itu kurang lebih 26 buah, 22 buah di Istambul dan 4 buah diluarnya. Jumlah kitab dalam perpustakaan itu kurang lebih 30.000 kitab.

NO

NAMA PERPUSTAKAAN DI ISTAMBUL

Banyak Jilidnya

1

Maktabah Sultan Muhammad Tsani

1.537

2

Maktabah Sultan Sulaiman

803

3

Maktabah Qalij Ali Basya

752

4

Maktabah Hafiz Ahmad Basya

412

5

Maktabah Kiyuberily Ughlu

1448

6

Maktabah Syahid Ali Basya

2.906

7

Maktabah Ibrahim Basya

831

8

Maktabah Walidah Sultan

732

9

Maktabah Basyir agha

552

10

Maktabah Athif effendi

1.336

11

Maktabah Aya shofia

1.445

12

Maktabah Seral Ghalthah

556

13

Maktabah Usman Tsalits

2,421

14

Maktabah Muhammad Raghib Basya

1,077

15

Maktabah La’lahli Daftar I

890

16

Maktabah La’lahli Daftar II

1.947

17

Maktabah Serai Hamayun

916

18

Maktabah Waliyuddin Efendi

1.769

19

Maktabah Asyrir Efendi

1.877

20

Maktabah Damad Ladah M. Murad Efendi

1.109

21

Maktabah Abdul Hamid

1.383

22

Maktabah Halat Efendi

656

Jumlah kitab-kitab di Istambul

24.445

NO

NAMA PERPUSTAKAAN DILUAR ISTAMBUL

Banyak Jilidnya

1

Maktabah Al-azhar di Kairo

1.099

2

Maktabah Abdullah Basya Al-Azhm di Damsyik

422

3

Maktabah Madrasah Ahmadiyah di Halab

269

4

Maktabah Qudus

609

Jumlah semua kitab-kitab

29.844[11]



[1] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001) h. 272-274

[2] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1989),cet ke.5, h. 164-165

[3] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Op.cit, h. 276

[4] Badri Yartim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994). 126

[5] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Op.cit, h. 171

[6] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992),cet ke.7, h. 168

[7] Mahmud Yunus, Perbandingan Pendidikan Modern di Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat, (Jakarta: C.v. Al-Hidayah, 1968), h. 124-125

[8] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Op.cit, h.277-278

[9] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Op.cit, h. 171

[10] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992),cet ke.7, h. 69-70

[11] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Op.cit, h.183-184


Responses

  1. info ttg buku mahmud yunus donk… dmana sy bisa membelinya….

  2. saya pengen isu pendidikan di Turki, seperti sekularisme dan pencabutan jilbab dari dunia pendidikan. kog gak ada???

  3. […] https://dakir.wordpress.com/2009/07/22/konsep-pendidikan-islam-turki-utsmani […]

  4. […] https://dakir.wordpress.com/2009/07/22/konsep-pendidikan-islam-turki-utsmani/  diunduh 17 november 2011 […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: