Posted by: mudakir fauzi | October 16, 2009

BAB I PENDAHULUAN

Keistimewaan manusia dari segala makhluk yang lain adalah karena manusia memiliki akal. Tidak ada makhluk yang paling mulia di dunia ini kecuali manusia karena akalnya. Manusia selama hidup menggunakan akal fikirannya sebagai petunjuk jalan untuk memilih yang manfaat bagi dirinya dan meninggalkan yang mudhorot bagi dirinya.  Manusia sejak dilahirkan sudah dibekali oleh Allah swt. akal untuk berfikir, akan tetapi manusia dan fikirannya tidak selalu sampai kepada tujuan yang betul-betul dimaksudkan. Demikian itu karena manusia belum mempelajari dan memikirkan tentang sesuatu dari segala jurusan dan segi kemungkinannya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun  “manusia dalam usahanya untuk berfikir kadang-kadang berpijak pada jalan yang benar dan kadang-kadang pada jalan yang salah, maka untuk menyampaikan fikiran manusia kepada jalan yang benar, harus ada ilmu yang dapat membedakan bagi fikiran manusia untuk memperoleh hasil usaha dan kerja fikiran manusia itu, ialah ilmu mantiq”.

Pada pembahasan sebelumnya kita sudah membahas tentang pengertian ilmu mantiq, maka kami akan membahas tentang ilmu  dan bagian-bagiannya serta dilalah dan bagian-bagiannya dalam ilmu mantiq. Hubungan antara ilmu dengan mantiq adalah dengan mantiq dapat menjadi jalan untuk mencapai ilmu yang benar, karena dalam ilmu sendiri masih terdapat pendapat-pendapat yang tidak sesuai dengan kenyataan, terbentuknya kepercayaan-kepercayaan yang salah dan khayalan-khayalan atau pemikiran-pemikiran yang tidak benar. Sehingga dibutuhkan mantiq untuk mencapai kebenaran dalam ilmu.

BAB IIPEMBAHASAN

I. ILMU

A. Pengertian Ilmu

Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan itu.[1]

Sedangkan menurut Prof. K.H.M. Taib Thahir Abd. Muin, ilmu adalah mengenal sesuatu yang belum dikenal.[2] Menurut Muhammad Nur al-Ibrahim mengemukakan pengertian ilmu menurut ahli mantiq sebagai berikut:

اِدْرَاكُ المَْجْـهُوْلِ عَلَى جِهَةِ الْيَقِيْنِ اَوِالـّظَنِّ اِدْرَاكًا يـُطَابِقُ الْوَاقِعَ اَوْ يُخَـالِفُهُ.

“Pencapaian objek yang belum diketahui dengan cara menyakini atau menduga yang keadaannya bisa sesuai dengan realita  atau sebaliknya” [3]

B. Bagian Ilmu

Ilmu terbagi dua macam:

  1. Ilmu Tashawur, yaitu:

اِدْرَاكُ حَقَـآئِقِ المْـُفْرَدَاتِ مِنْ غَيْرِ تَعَرّ ُضِ اْلإِثْبـََاتِ شَيْءٍ لَـهَا اَوْ نَفِيُـهُ عَنْهَا

“Mengetahui hakikat-hakikat objek tunggal dengan tidak menyertakan penetapan sesuatu kepadanya atau meniadakan penetapan darinya.”

Contoh: Ahmad, nasi, manusia, kambing, kerbau, rumah, dan sebagainya. Jadi pemahamannya ahmad saja.

  1. Ilmu Tashdiq, yaitu:

اِدْرَاكُ النِـّسْبَةِ التَـآمَةِ بَيْنَ مُفْرَدَ ْينِ اَوِ الْحُكْمِ عَلَى حَقِيْقَةٍ بِاِثْبـَاتِ شَيْءٍ لَـهَا اَوْ نَفِيُهُ عَنْهَا

“Mengerti hubungan yang sempurna antara dua objek yang tunggal, atau menghukumi hakikat objek dengan menetapkan sesuatu kepadanya atau meniadakan penetapan darinya.”[4]

Maksudnya memahami hubungan antara dua kata, atau menetapkan suatu kata dengan kata yang lain. Ketika memahami kata “ahmad” maka itu disebut tashawur. Tetapi ketika memahami kata “ahmad sakit” maka itu disebut tashdiq.

Ilmu tashdiq dan ilmu tashawur terbagi masing-masing menjadi dua: (1) Badihi, (2) Nazhari. Badihi adalah pemahaman tentang sesuatu yang tidak memerlukan pemikiran atau penalaran, seperti 1+1=2, 1 adalah setengah dari 2 dan sebagainya. Sedangkan Nazhari adalah pemahaman tentang sesuatu yang memerlukan pemikiran atau penalaran, seperti ilmu matematika, kimia, geografi, kebangkitan di alam kubur, dll.[5]

II. DILALAH

A. Pengertian Dilalah

Dilalah dari segi bahasa artinya petunjuk atau yang menunjukkan. Dalam mantiq dilalah adalah,

الدِلاَلَةُ هِيَ فَهْمُ اَمْرٍ مِنْ اَمْرٍ وَيُسَمَى اْلاَمْرُ اْلاَوَلُ اْلمَدْلُوْلُ وَاْلاَمْرُ الثَـانىِ الدَالـُ

Yaitu, suatu pemahaman yang dihasilkan dari suatu hal yang lain. Seperti adanya asap di balik bukit berarti ada api di bawahnya. Sesuatu yang pertama disebut madhlul yang berarti yang ditunjuk (api), sedangkan yang kedua disebut dalil yang artinya menunjukkan (asap).[6]

B. Bagian Dilalah

Dilalah terbagi dua macam:

  1. Dilalah Lafdziyah, yaitu:

مَا كَانَ الدَالُـ فِيْـهَا لَفْـظًا اَوْ صَوْتـًا

Dilalah yang dal (petunjuk)nya berupa suara atau kata-kata

Dilalah lafdziyah terbagi 3:

  1. Lafdziyah Thab’iyah

مَا كَانَ الدَالُـ فِيْـهَا عَرَضـًا طَبِيْعِيـًا

Dilalah yang petunjuknya berupa suara yang bersifat alamiah.

Contoh: ungkapan terkejut “waw” atau rasa sakit “aduh”

  1. Lafdziyah Aqliyah

مَا كَانَ الدَالُـ فِيْـهَا عَقْـلاً

Dilalah yang petunjuknya berupa suara yang rasional

Contoh: adanya orang di dalam kamar dapat difahami dari adanya percakapan di kamar itu.

  1. Lafdziyah Wadh’iyah

مَا كَانَ الدَالُـ فِيْـهَا وَضْعـًا وَاصْطِلاَحـًا

Dilalah yang petunjuknya berupa kata yang ditunjukkan untuk suatu makna tertentu atau petunjuk yang dengan sengaja dibuat oleh manusia untuk suatu isyarah atau tanda apa saja berdasarkan kesepakatan.

Contoh: pemahaman tentang “segala sesuatu yang datang dari Nabi saw, baik dari perkataan, perbuatan, maupun penetapan Nabi atas perbuatan sahabat (takrir)” disebut sunnah. Lafdziyah Wadh’iyah terbagi lagi menjadi 3 bagian:

1). Dilalah Lafzdiyah Wadh’iyyah Muthabaqiyyah

دِلاَلَةُ اْللَـفْظِ عَلىَ تمَاَمِ مَعْنـَاهُ اْلمَوْضُوْعُ لَـهُ

Dilalah lafazd atas kesempurnaan maknanya  yang ditujukkan baginya

Maksudnya adalah petunjuk suatu lafazd yang menunjukkan kepada satu makna yang lengkap, contohnya: kata rumah menunjukkan meliputi bagian-bagiannya, termasuk dinding, pintu, atap, dll.[7]

2). Dilalah Lafzdiyah Wadh’iyyah Tadhammuniyah

دِلاَلَةُ اْللَـفْظِ عَلىَ جُزْءِ مَعْنـَاهُ اْلمَوْضُوْعُ لَـهُ

Dilalah lafazd atas sebagian maknanya yang ditunjukkan baginya

Contoh: misalnya, ketika anda menyuruh tukang memperbaiki rumah maka yang anda maksudkan bukanlah seluruhnya, melainkan bagian-bagian yang rusak saja. Atau jika anda meminta dokter untuk mengobati anda, maka yang anda maksudkan adalah bagian badan anda yang sakit saja.

3). Dilalah Lafzdiyah Wadh’iyyah Iltizamiyyah

دِلاَلَةُ اْللَـفْظِ عَلَى شَيْءٍ خَارِجٍ عَنْ مَعْنـَاهُ لاَزِمٌ لَـهُ

Dilalah lafazd atas sesuatu di luar kandungan maknanya yang merupakan keharusan bagi sesuatu tersebut.[8]

Maksudya adalah petunjuk kata kepada sesuatu yang di luar makna lafazd yang disebutkan, tetapi terkait amat erat dengan makna yang dikandungnya. Contoh: diharamkan daging babi, yang dimaksudkan di sini bukan hanya dagingnya saja tetapi beserta lemaknya.

  1. Dilalah Ghoiru Lafzdiyyah, yaitu:

مَا كَانَ الدَالـُ فِيْهَا غَيْرُ لَفْـظٍ اَوْ صَوْتٍ

Dilalah yang petunjuknya bukan berupa kata-kata atau suara

Maksudnya dilalah gairu lafziyah ini merupakan konsep pemahaman bahasa isyarat (komunikasi nonverbal). Dilalah ghoiru lafdziyah terbagi menjadi 3 bagian:

a. Dilalah Ghoiru Lafdziyah Thab’iyyah, yaitu:

مَا كَانَ الدَالـُ فِيْهَا عَرَضًـا طَبِيْعِيـًا

Dilalah yang penunjuknya berupa sifat alami

Contoh: dipahaminya “malu” dari “wajah merah”, dipahaminya “sedih” dari “manangis”

b. Dilalah Ghoiru Lafdziyyah ‘Aqliyah

مَا كَانَ الدَالـُ فِيْهَا عَقْـلاً

Dilalah yang penunjuknya berupa sesuatu yang rasional

Contoh: Dipahaminya “ada orang masuk kamar” dari keadaan kamar yang berantakan padahal semula keadaan kamar itu rapi.[9]

c. Dilalah Ghoiru Lafdziyah Wadh’iyah

مَا كَانَ الدَالُ فِيْهَا شَيْـأً اِصْطِلاَحِيًا وُضِعَ لِيَدُلَ عَلىَ اْلمَعْنَى اْلمَفْهُوْمِ مِنْهُ

Dilalah yang penunjuknya berupa sesuatu yang sudah baku sehingga dapat dipahami suatu arti tertentu.

Contoh: secarik kain hitam yang dilekatkan di lengan kiri orang Cina adalah dilalah bagi kesedihan karena ada anggota keluarganya yang meninggal.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Ilmu mantiq adalah ilmu tentang kaedah-kaedah yang dapat membimbing manusia kearah berpikir yang benar yang menghasilkan kesimpulan yang benar sehingga terhindar dari berpikir secara keliru yang dapat menghasilkan kesimpulan yang salah. Ilmu menurut para ahli mantiq adalah pencapaian objek yang belum diketahui dengan cara menyakini atau menduga yang keadaannya bisa sesuai dengan realita  atau sebaliknya.

Ilmu terbagi menjadi 2 bagian yaitu ilmu tashawwur yaitu mengetahui hakikat-hakikat objek tunggal dengan tidak menyertakan penetapan sesuatu kepadanya atau meniadakan penetapan darinya, contohnya ahmad, dan ilmu tashdiqi yaitu mengerti hubungan yang sempurna antara dua objek yang tunggal, atau menghukumi hakikat objek dengan menetapkan sesuatu kepadanya atau meniadakan penetapan darinya, contohnya ahmad sakit. Pada bagian tasawwur dan tasdiq juga terbagi dua yaitu badihi dan nazari.

Dilalah juga bagian dari ilmu mantiq. Dilalah adalah  suatu pemahaman yang dihasilkan dari suatu hal yang lain. Dilalah terbagi 2, yaitu dilalah lafdziyah dan dilalah ghoiru lafdziyah, keduanya dibagi menjadi 3 thab’iyyah, ‘aqliyyah, dan wadh’iyyah. Tetapi bagi dilalah lafdziyah wadh’iyah terbagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu muthabaqiyah, tadhamuniyah, dan iltizamiyah.


[1]. H. Baihaqi A.K, Ilmu Mantiq Teknik Dasar Berfikir Logika, Darul Ulum Press . h. 9.

[2]. K.H.M. Thaib Thahir Abd. Muin, Ilmu Mantiq (logika), 1987, PT. Bumirestu, Jakarta. h. 21.

[3]. H. Syukriadi Sambas, Mantiq Kaidah Berpikir Islami, 1996, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. h. 40.

[4]. H. Syukriadi Sambas, Mantiq Kaidah Berpikir Islami,………….. h. 40.

[5]. H. Baihaqi A.K, Ilmu Mantiq Teknik Dasar Berfikir Logika,……………h. 11.

[6]. H. A. Basiq Djalil, Logika (Ilmu Mantiq), 2008, CV. Qalbun Salim, Jakarta. h. 9.

[7]. H. Baihaqi A.K, Ilmu Mantiq Teknik Dasar Berfikir Logika…………….h. 15.

[8]. H. Syukriadi Sambas, Mantiq Kaidah Berpikir Islami,………….. h. 44.

[9].  H. Syukriadi Sambas, Mantiq Kaidah Berpikir Islami,………….. h. 45.


Responses

  1. psenerangan yg sangat bagus, cuma mau nanya.. frasa ” muqoddimah kubro dan muqaddimah sughra/ bisa nerangkanya sedikit…terimakasih ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: